FIND HOT WEB VIDEOS: DOWNLOAD

tagtag.com/ceritaseru

Sesi terakhir dari konferensi hari ini terasa semakin membosankan dan panjang. Akhirnya pukul lima sore, konferensi hari ini selesai. Teman-temanku mengajakku untuk pergi ke sebuah bar untuk minum-minum. Aku menolak dengan halus. Pertama, aku tidak suka minuman beralkohol (pernah mencoba, dan aku memang tidak suka), kedua, aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Keisha lagi. Aku langsung kembali ke hotel dengan bus antar-jemput.
Setiba di hotel, aku menuju ke sebuah telefon internal hotel dan menekan nomor pesawat kamarku. Dua kali deringan dan telefon diangkat. Aha! Keisha sudah pulang.  

"Halo..." suara merdu Keisha terdengar di telefon. Aku girang.
"Hai Kei... aku udah di bawah nih. Aku ke atas ya sekarang!" kataku.
"Hai Frank! Ya... aku tunggu!" setelah meletakkan gagang telefon, aku bergegas menuju lift.
Kuketuk pintu kamarku. Tak lama kemudian pintu terbuka. Aku terkejut dan tercengang melihat Keisha. Dia mengenakan sebuah gaun malam berwarna hitam dengan baju luaran berwarna putih. Bibirnya dipolesi dengan lipstik tipis dengan make up yang tidak menyolok. Aku kagum melihatnya. Benar-benar bukan Keisha yang aku kenal. Aku mencium wangi harum parfum yang sepertinya aku kenal. Ya! Ini seperti wangi Mitsuko. Tak salah, pasti parfum yang dipakai Keisha adalah Issey Miyake (belakangan kuketahui bahwa dugaanku ternyata benar). Sejenak aku tertegun dan tak mampu berbicara.  

"Hai Frank! Gimana konferensinya?" Keisha menyambutku sambil meraih tas kerjaku. Pipiku diciumnya.
"Terus terang... sangat membosankan!"
"Lho kenapa? Oh ya, ada lemonade kesukaanmu di dalam kulkas." Aku membuka lemari es dan menuangkan lemonade ke dalam gelas.
"Topiknya sih menarik, tapi pikiranku nggak di sana." Aku minum lemonade secara pelan-pelan. "Pikiranku pengin buru-buru ketemu kamu lagi."
"Hahaha... Frank... Apa kamu juga selalu begini ke semua cewek yang kamu suka?" tanya Keisha sambil tertawa. Aku harus menjawab bagaimana? Aku memilih untuk tidak menjawab, malah aku mengalihkan pertanyaan Keisha dengan sebuah pertanyaan, " Kamu dandan begitu mau pergi ke mana Kei?"  

"Frank, aku tadi pas jalan-jalan, ketemu sebuah resto Itali yang aku pikir makanannya pasti enak. Abis, aku baca di buku panduan tentang Chicago, restoran itu dapat rekomendasi empat bintang dan harganya masih masuk akal. Jadi, aku mampir ke sana dan memesan tempat buat kita berdua nanti untuk jam tujuh." Keisha menjelaskan rencananya sambil membukakan jas yang kupakai dan kemudian menggantungnya di gantungan baju di dalam lemari. Aku melepaskan dasi yang kupakai lalu kugulung dan kumasukkan dalam koperku.
"Wah... bagus juga rencanamu. Aku setuju aja dengan pilihanmu. Aku juga tadinya punya rencana untuk makan malam bareng kamu, tapi aku belum punya pilihan. Tadinya aku mau minta saranmu, ternyata kamu malah sudah dua langkah ke depan." Aku membuka kemejaku dan kumasukkan ke dalam laundry bag. "Sekarang aku mau mandi dulu. Badanku rasanya lengket nih!"  

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh waktu aku keluar dari kamar mandi. Tanpa malu-malu, aku keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan kaus dalam dan celana dalam. Diam-diam kuperhatikan Keisha yang sedang mengamatiku dari sofa. Dia seolah-olah tidak perduli, walaupun aku tahu dia terkadang mencuri-curi pandang ke arahku. Aku malam ini memilih kaus turtle neck lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang hitam. Jadi, temanya mungkin "hitam- hitam" malam ini.
Tak sampai sepuluh menit, aku sudah siap untuk pergi. Sebelum keluar kamar, aku menyambar jaket kulitku (yang juga berwarna hitam). Keisha mengomentari bahwa kami berdua seperti akan pergi untuk manggung acara vocal group. Keisha menggandeng tangan kiriku ketika keluar dari kamarku hingga ke mobil. Aku tak banyak bicara, hanya mengomentari setiap pertanyaan Keisha tentang berbagai hal.  

Hari Jumat malam, harusnya jalanan lumayan ramai. Mungkin karena liburan Thanksgiving, jadinya tidak begitu ramai. Baru kusadari bahwa penyelenggara konferensi yang aku ikuti termasuk " berani", karena mengambil waktu bertepatan dengan liburan Thanksgiving. Biasanya, orang- orang Amerika Serikat lebih senang berkumpul dan liburan bersama keluarga. Kalau aku pikir, konferensi ini termasuk sukses, melihat banyaknya peserta yang datang. Aku mengendarai mobil menyusuri jalanan di kota Chicago. Letak restoran Italia yang dimaksud Keisha ternyata tidak terlalu jauh dari hotel. Perjalanan hanya kutempuh kurang dari setengah jam.  

Kami menikmati hidangan khas Italia sambil bercerita panjang lebar tentang apa saja. Keisha memesan sup asparagus sebagai hidangan pembuka dan shrimp fettuccini sebagai menu utamanya. Aku agak terkejut juga saat Keisha memesan anggur merah. Keisha mengatakan bahwa dia sangat menikmati anggur merah dan dengan "bangganya" dia bisa menyebutkan nama- nama anggur merah favoritnya. Aku sendiri tidak suka minum minuman beralkohol, biarpun itu "hanya" segelas atau sebotol bir. Sebagai hidangan penutup, Keisha memesan sepotong tiramisu. Seingatku, waktu itu aku memesan sup kepiting, kemudian spaghetti meat balls dengan saus spesial buatan restoran ini ditambah saus pesto. Untuk hidangan penutup aku memilih sepotong strawberry cheese cake kegemaranku dengan menikmati secangkir cappuccino bersama biscottinya.  

Aku adalah seorang peminum kopi dan teh. Biarpun aku seorang peminum kopi yang lumayan fanatik, tapi aku tidak sampai kecanduan. Aku bisa saja berhari-hari tidak minum kopi dan tubuhku tidak sampai "menagih". Sebaliknya, aku bisa saja minum tiga- empat gelas kopi pekat, tapi kalau aku ingin tidur, ya aku tinggal tidur saja. Sepertinya kopi tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap tubuhku. Bicara soal kopi, hingga saat ini menurutku memang belum ada kopi yang pernah kurasakan bisa menandingi kopi- kopi dari Indonesia. Mulai dari yang paling " ringan" (kopi Bali) hingga kopi paling " keras" (kopi Medan). Keistimewaan kopi dari Indonesia menurutku karena kadar keasamannya yang rendah, sehingga tidak terlalu mempengaruhi sistem pencernaanku. Tidak seperti kopi dari Hawaii (Kona Hawaii) yang kadar keasamannya tinggi, sehingga sedikit saja aku meminumnya, rasanya seperti minum obat pencahar. Kalau soal rasa, belum pernah aku meminum kopi yang bisa mengalahkan rasa "kopi luwak", yaitu kopi Jawa yang ditumbuk dari biji- biji kopi yang ditelan bulat-bulat oleh seekor musang (luwak dalam Bahasa Jawa) dan dikeluarkan kembali dalam bentuk utuh melalui kotorannya. Kopi semacam ini sudah jarang sekali.  

Tak terasa kami ngobrol hingga pukul sembilan malam. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan restoran ini. Keisha tidak ingin segera kembali ke hotel. Keisha dan aku akhirnya hanya berkeliling mengendarai mobil menikmati Chicago di waktu malam. Tak banyak yang kami bicarakan dalam perjalanan ini. Pukul setengah sebelas kami sudah kembali menuju hotel dan setengah jam kemudian kami sudah sampai di kamarku.
Keisha segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Ketika keluar dari kamar mandi, Keisha sudah mengenakan piyamanya. Kini giliranku untuk berganti pakaian dan bersiap untuk tidur. Seperti biasa, aku mengenakan kimono untuk tidur dan hanya mengenakan celana dalam di dalamnya.
Aku berbaring di sebelah Keisha. Kembali ada rasa aneh yang menjalari dadaku. Rasa hangat, rasa bergetar. Keisha memegang tanganku di balik selimut.  

"Frank..." kata Keisha perlahan.
"Hmm..." jawabku sambil melihat ke wajahnya, yang berjarak sangat dekat.
"Aku... aku mau ngomong sesuatu, tapi malu mau ngomonginnya..."
"Ada apa Kei?" aku mengelus punggung tangan Keisha dengan jemariku.
"Malu Frank aku mau ngomonginnya..." Keisha tampak ragu- ragu sekali.
"Omongin aja Kei... Aku siap ngedengerinnya. Jangan kuatir."
"Frank... Kamu... kamu mau pegang nggak Frank?" tanya Keisha malu- malu sambil tangannya menuntun tanganku ke arah dadanya. Aku langsung mengerti maksudnya.
"Kei... Kei... gitu aja kok malu. Jelas aja aku sama sekali nggak keberatan! Mana ada kucing nolak ikan?" langsung aja aku menghadapi Keisha. Kucium lehernya yang beraroma segar sabun pencuci muka, sementara tanganku perlahan meraba bukit dadanya yang tidak terlalu besar. Aku meremas lembut bukit dada Keisha yang sebelah kiri. Perlahan, mungkin malah cenderung seperti mengelus. Keisha mengerang pelan, " Frank..., enak Frank..." Aku tahu Keisha tidak memakai bra, itu bisa kurasakan dari rabaanku.  

Perlahan kubuka kancing-kancing piyama Keisha. Bibirku masih menciumi sekitar leher dengan sesekali kugigit- gigit kecil dagunya. Terpampanglah sepasang " bukit" (susah juga disebut " bukit" karena nyaris rata) kembar Keisha dengan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah tegang. Ciuman bibirku perlahan turun dari leher ke dada kiri Keisha. Kukecup perlahan puting kirinya, kujilat perlahan dengan ujung lidahku. Keisha mengerang lagi. Kemudian kukulum putingnya yang sudah tegang itu, kuisap dan kumainkan dengan lidahku, kujawil- jawil dengan lidahku. Keisha mendesis- desis keenakan sambil tangannya menyisir rambut kepalaku.
Selagi Keisha sedang keenakan mendesis- desis sambil memejamkan mata, aku dengan nekat menyergap bibirnya yang seksi dan sensual itu. Kucium bibir Keisha yang merah merekah alami yang sedang menikmati sensasi yang kuberikan. Kukulum bibirnya. Aku sudah bersiap bahwa dia akan marah. Ternyata Keisha membalas kuluman bibirku. Kami berciuman, saling berpagutan, saling mengulum. Keisha malah memainkan lidahnya di dalam mulutku sambil kedua tangannya memegangi kepalaku.  

Kami saling bergumul. Aku memeluk erat tubuh Keisha. Aku tumpahkan semua rasa rindu yang mungkin pernah aku pendam sejak lama. Ada rasa cinta dan sayang yang menjalari hatiku saat itu. Mungkin ini yang membedakan antara "making love" dan " just sex". Kami saling berciuman seolah- olah tak mau melepaskan diri satu sama lain.
Perlahan, kulepaskan bibirku dari bibir Keisha. Kembali aku memainkan bukit dada Keisha dengan bibir dan lidahku. Kali ini yang sebelah kanan. Lidahku mengisap dan menjawil-jawil puting bukit dada Keisha yang sebelah kanan, sementara ibu jari dan telunjuk kananku memainkan putingnya yang sebelah kiri. Kuputar-putar dan kupilin-pilin dengan lembut dan mesra puting kiri Keisha. Dia kembali mengerang-erang, mendesis-desis keenakan, dengan sesekali memanggil namaku.  

Kususuri dada Keisha hingga ke pusarnya. Kujilati sekitar pusar Keisha, dia melenguh kegelian dan menggeliat. Lidahku menjalar- jalar hingga terhalang oleh celana piyama Keisha. Kuturunkan celana piyama Keisha hingga ke panggulnya. Ada rambut-rambut yang sangat halus di daerah sekitar pertengahan antara pusar dan selangkangan Keisha. Celana dalamnya yang berwarna putih perlahan aku hendak singkapkan.
Keisha menahan tanganku, " Jangan Frank...!" katanya lemah. Aku biarkan celana dalamnya, tapi tanganku kemudian menarik celana piyama Keisha hingga lepas. "Jangan kuatir Kei... Aku tidak akan melakukan apa yang kamu tidak mau." Kataku sambil terus menciumi dan menjilati pusar Keisha dan sekitarnya, sementara tangan kiriku memilin-milin puting kanan Keisha.  

Kukecup dan kucium selangkangan Keisha. Celana dalamnya sedikit basah. Aku mencium wewangian lembut yang khas dari selangkangan Keisha. Dia masih mendesis- desis. Lebih-lebih saat pahanya aku susuri dengan jari-jari tanganku yang kemudian kususul dengan lidahku yang memutar-mutar menyusuri setiap sentimeter dari pahanya yang mulus.
Keisha memiliki kaki yang jenjang dan mulus berwarna coklat yang sangat muda, nyaris putih. Tak ada bekas-bekas luka atau pun warna yang berbeda (discolorization) atau pigmentasi pada kulitnya. Jangan ditanya bagaimana perasaanku waktu itu. Keisha melihatku dengan sedikit keheranan karena aku memperhatikan kedua kakinya. "Kenapa Frank?"  

"Nggak ada apa- apa Kei. Aku sedang mengagumi keindahan kakimu yang jenjang dan mulus ini." Keisha tersenyum. Ada semburat merah di wajahnya.
"Ooouuuggghh... Frank!" lenguh Keisha sambil meremas rambutku saat lidahku menusuk selangkangannya. Lidahku mendesak masuk celana dalam Keisha dan menjawil- jawil klitorisnya. Badan Keisha sebentar mengejang sebentar melemas. Kedua kakinya kuangkat tinggi- tinggi sehingga membentuk huruf "V". jari-jari tanganku menjalari dan menyusuri belakang Keisha, sementara lidahku masih menjilati daerah selangkannya yang masih ditutupi celana dalam berkain tipis (sutra? Yang jelas bukan bahan katun). Lama juga aku " mengerjai" selangkangan Keisha dengan lidahku. Celana dalam Keisha menjadi basah, campuran antara cairan kami berdua, dari " mulut" Keisha dan dari lidahku.  

Kugigit-gigit kecil kedua paha dalam Keisha sambil kedua tanganku meremas- remas pantatnya. Sesekali kuvariasi dengan remasan, jawilan dan pilinan jariku terhadap bukit dadanya. Keisha seringkali menggelinjang kegelian saat lidahku menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.
Akhirnya perlahan kutarik kedua tangan Keisha supaya Keisha duduk. Kulepas baju piyama Keisha lalu kupeluk Keisha dari belakang. Kedua tanganku bermain-main di kedua bukit dada Keisha, sambil lidahku menjilati tengkuk dan belakang telinganya. Sekali-kali kutiup perlahan ke arah telinganya. Setiap kali kutiup telinganya, Keisha merinding. Kugigit-gigit lembut bahu kanan Keisha. Tampaknya Keisha sangat menikmati " pelayananku" ini. Keisha menengok ke arahku. Bibirnya yang terbuka mengundangku untuk melumatnya. Kami saling berciuman sambil tanganku tak lepas dari bukit dadanya.  

Aku menjilati setiap bagian dari tulang belakang Keisha dengan tak lupa memperhatikan daerah tulang belikat. Saat lidahku sampai pada pinggangnya, aku menjilati daerah itu sambil jari- jariku menari-nari di badan sampingnya. Keisha menggelinjang kegelian.
Perlahan kutundukkan badan Keisha ke arah depan, sehingga kini Keisha dalam posisi menungging. Kembali lidahku beraksi di daerah kemaluan Keisha. Kembali Keisha mendesis-desis dan menceracau. Tanganku tak tinggal diam. Pantat Keisha kuremas-remas dan kumainkan yang sesekali aku gigit lembut.
Sampai suatu ketika, Keisha tak tahan lagi. Dia membalik ke arahku. Dipeluknya aku erat- erat dan dilumatnya bibirku. Kubalas sambil kedua titik "ming- men"-nya kuputar-putar dengan kedua jari telunjukku, kualiri sedikit getaran- getaran tenaga dalamku yang terasa hangat. Keisha mengejan dan memelukku erat sekali, bibirku digigitnya. Dua tiga detik kemudian, Keisha menjadi lemas. Keisha sudah " sampai" rupanya. Kulirik jam alarm di atas meja samping tempat tidur, " Hmm dua jam, not bad!" pikirku.  

Keisha menciumi wajahku. Kubawa dia kembali berbaring di tempat tidur. Kami masih saling berpelukan.
"Frank... terima kasih! Kamu hebat! Kamu bisa sabar dan mengerti apa yang aku mau. Kamu nggak egois, kamu memberi tanpa meminta balasan!"
"Sssttt..." jawabku sambil kembali mengecup bibir Keisha, " I think I am still in love with you!" Keisha hanya tersenyum mendengar bisikanku.
"Terima kasih Frank. Tapi aku masih belum bisa menerimamu, kamu adalah seorang teman yang sangat baik buatku. Ada berbagai alasan yang aku nggak bisa cerita ke kamu. Mungkin belum saatnya." Aku tak menjawab, hanya memandangnya dengan senyumanku. Ada berjuta perasaan yang berkecamuk di dadaku saat itu, yang aku nggak tahu, yang aku nggak bisa jabarkan. Akhirnya kami berdua terlelap tak berapa lama kemudian.  

EPILOG  

Hari Sabtu, hari terakhir konferensi. Rasanya pagi ini aku bangun dengan sangat malasnya. Tapi aku harus bangun dan pergi ke konferensi bergabung bersama teman- temanku. Keisha terbangun saat aku kecup keningnya dan keluar dari selimut menuju ke kamar mandi.
Konferensi hari ini rasanya sama saja seperti kemarin, membosankan! Dan hari ini waktu juga terasa berjalan sangat lambat hingga pukul lima sore. Malam ini Keisha dan aku makan malam di restoran hotel, kemudian kami menonton sebuah film di bioskop sinepleks di sebuah mal. Pulangnya kami mampir ke kafe Starbuck untuk menikmati secangkir caffe latte dan cappuccino.  

Malam ini kami melakukan lagi hal yang serupa seperti kemarin malam, namun kali ini aku yang memulai dan Keisha lebih aktif dibandingkan kemarin. Sengaja tidak aku ceritakan secara detil karena hampir sama seperti apa yang sudah aku ceritakan di atas. Keisha masih belum mau " menyerahkan diri" secara total kepadaku.
Hari Minggu keesokan harinya, aku mengantarkan Keisha ke stasiun bus Greyhound pagi hari sekitar pukul sembilan. Kutunggu hingga bus yang ditumpangi Keisha hilang dari pandanganku. Ada bagian dari hatiku yang terbawa oleh kepergian Keisha dari pandanganku. Aku sendiri hari ini mengembalikan mobil yang kusewa dan berkumpul kembali bersama teman- temanku di bandara O'Hare Chicago untuk kembali pulang ke Los Angeles.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com