Start your FREE mobile page!

tagtag.com/ceritaseru

Memang, lagu yang sedang dimainkan berjudul "Hip- Hip Hura" karya Chrisye. Lagu ini mengingatkan Keisha dan aku akan malam perpisahan untuk kelas 3 sewaktu kami masih kelas satu. Keisha yang berpasangan dengan Bobby bersama dengan tiga pasangan lainnya menampilkan tari kreasi baru hasil koreografi salah seorang murid satu tiga. Nah, di dalam tarian itu, Keisha " menunjukkan" ke- sangat-akrab-annya dengan Bobby dengan penuh " flirting". Soalnya Keisha tahu bahwa di belakang layar, aku pasti menonton tarian dia. Parahnya lagi, Bobby juga menanggapi "permainan" Keisha dengan baik, sehingga seolah-olah memang di antara mereka berdua ada "apa- apanya". Waktu itu aku " dibakar" api cemburu. Aku merasa seperti dikhianati oleh Bobby, sampai-sampai seusai acara perpisahan itu aku menanyakannya kepada Bobby secara langsung. Dia hanya tertawa dan meninggalkanku tanpa memberikan jawabannya. Ternyata di kemudian hari aku baru tahu kalau Bobby pernah "hutang budi" kepada Keisha, dan Keisha meminta Bobby untuk membantu dia " membuat panas" aku. Tadinya Bobby tidak mau karena aku temannya, tetapi Keisha menggunakan " senjatanya" dan membuat Bobby tidak mampu menolak.  

"Frank, aku pikir-pikir kamu itu lucu lho." kata Keisha.
"Kenapa?"
"I ya, zaman di SMA dulu kamu khan mati-matian naksir aku, tapi aku sama sekali nggak suka sama kamu. Kamu sudah aku tolak, sudah aku kerjain, dan sudah aku apain segala macam, tapi tetap aja kamu nggak bergeming. Emangnya kenapa Frank? Penasaran?"
"Siapa bilang aku nggak bergeming? Tunggu aja lagu berikutnya dari Ebiet G. Ade yang berjudul Seberkas Cinta Yang Sirna. Demen Ebiet nggak kamu Kei?"
"Nggak tuh... Terlalu melankolis lagu-lagunya."  

"Waktu kamu tolak aku terakhir kali di rumah si Bagas itu, aku udah patah semangat dan patah arang. Akhirnya aku putuskan untuk melupakan kamu dan berkonsentrasi untuk ikutan Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, waktu itu belum ada istilah UMPTN yang baru ada setelah tahun 1989. Pen.), makanya aku bisa sangat menghayati lagu si Ebiet yang bakalan muncul sesudah lagu ini. Nah, ini... udah mulai."  

Masih sanggup untuk kutahankan,
meski telah kau lumatkan hati ini.
Kau sayat luka baru di atas duka lama.
Coba bayangkan betapa sakitnya.
Hanya Tuhanlah yang tahu pasti,
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi.
Begitu buruk telah kau perlakukan aku.
Ibu menangislah demi anakmu.  

"Wow Frank... Segitunya kamu! Apa I ya aku begitu?" tanya Keisha.
"Sssssst... dengerin aja terusannya!"  

Sementara aku tengah bangganya,
mampu tetap setia meski banyak cobaan.
Begitu tulusnya kubuka tanganku,
langit mendung gelap malam untukku.
Ternyata mengagungkan cinta,
harus ditebus dengan duka lara.
Tetapi akan tetap kuhayati,
hikmah sakit hati ini.
Telah sempurnakah kekejamanmu?  

Aku tidak menyimak akhir dari lagu itu, karena Keisha menarik tanganku yang berada dalam genggamannya ke arah wajahnya. Secara lembut dan perlahan, punggung tanganku dikecupnya. Kulihat di matanya ada setitik air mata yang membuat matanya berkaca-kaca.  

"Frank, sebegitu sakit hatinyakah kamu ke aku?" aku tersenyum mendengar pertanyaan Keisha.
"Dulu ya Kei, tapi sekarang sudah nggak lagi. Sudah lama aku kubur rasa sakit hati itu."
"Maafkan aku ya Frank kalau aku sudah membuat kamu begitu sakit hati dan menderita batin." Kata Keisha sambil mengecup punggung tanganku lagi. Aku menikmatinya. Sangat menikmatinya.
"Kei... aku sudah memaafkanmu sejak lama, sampai aku lupa. Kalau nggak begitu, apa sekarang kita bisa satu mobil dan bakalan satu kamar?"
Keisha kembali tersenyum. "I ya ya Frank! Aku kok jadi melankolis begini ya? Terima kasih ya Frank. Kamu baik sekali."
"Lho... baru tahu?" jawabku sambil bercanda.  

Tak berapa lama, sampailah kami berdua ke pelataran parkir hotel di bawah tanah. Setelah mengunci mobil, aku kembali membawakan tas jinjing milik Keisha dan mempersilakan dia untuk menuju lift. Aku menekan tombol lantai kamarku.
" Welcome..." kataku setelah membukakan pintu kamarku dengan kunci elektronik hotel dan mempersilakan Keisha untuk masuk.
"Sorry Kei, waktu aku check in, aku minta non smoking double bed tapi kebetulan lagi nggak ada. Adanya cuma ini." Kataku sambil menunjuk ke arah tempat tidur ukuran King-size. Keisha mengangguk.
Jam alarm yang ada di atas meja di sebelah tempat tidur telah menunjukkan hampir pukul dua pagi. "Silakan kamu duluan ke kamar mandi kalau kamu mau Kei. Aku nanti sesudah kamu. Aku bisa cepat kok." Tawarku.  

Keisha membuka tas jinjingnya dan mengambil perlengkapan kamar mandinya yang dikemas dalam sebuah kotak dari plastik bergambar bunga dan beberapa potong pakaian. Sekilas aku melihat dia secara cepat membungkus pakaian dalamnya di dalam lipatan piyama yang akan dipakainya. Tak berapa lama kemudian, Keisha sudah berada di dalam kamar mandi dan kudengar suara shower. Aku sendiri menyalakan tv dan melepaskan jaket, sepatu dan kaos kakiku. Kuatur suhu ruangan untuk tetap bertemperatur sekitar 75 derajat Fahrenheit (sekitar 25 derajat Celcius) dengan menekan tombol pengatur suhu ruangan.  

Kubuatkan secangkir teh hangat untuk Keisha. Aku sendiri hanya minum segelas air putih. Kembali aku ke arah sofa dan duduk menonton acara tv yang tidak menarik. Aku mencari-cari saluran yang kira- kira bisa kunikmati. Pukul dua pagi, paling juga sebagian besar isinya infomercial. Akhirnya aku bosan sendiri. Aku melepaskan kaca mataku dan mengusap mukaku, kemudian meluruskan kedua kakiku dan kedua tanganku, mengeliat dan kemudian menggoyang-goyangkan seluruh tubuhku seperti kucing atau anjing yang berusaha untuk mengeringkan tubuhnya. Inilah cara cepat untuk menghilangkan kepenatan tubuh yang kupelajari dari Mas DSB, guruku.  

"Aku sudah selesai Frank." Tiba-tiba Keisha mengejutkanku. Rambutnya yang masih agak basah berusaha dikeringkannya dengan handuk, wajahnya yang tampak berseri-seri tanpa kaca mata, dengan tubuh kurusnya yang dibungkus piyama satin berwarna hijau tua, membuatku tertegun. Belum lagi keharuman aroma segar shampoo dan sabun yang dipakainya yang menggelitik syaraf- syaraf indera penciumanku. Ini bukan Keisha Saraswati Buntaran yang kukenal, pikirku.
"Hei Frank! Kok jadi bengong gitu? Emang ada apa?" Keisha menyadarkanku dari ketertegunanku.
"Ah nggak Kei... Kamu... nggak deh!" jawabku sambil bangkit menuju kamar mandi dan tersenyum ke arah Keisha. "Aku kenapa Frank?" tanya Keisha lagi. "Nggak jadi... Itu aku buatkan kamu secangkir teh hangat." Jawabku sambil menunjukkan teh hangat yang kubuat untuk Keisha yang kuletakkan di atas meja tulis. Aku hanya mendengar sepotong suara Keisha berterima kasih kepadaku karena aku sudah berada di dalam kamar mandi dan menutup pintunya.  

Ah, nyaman rasanya air hangat yang menyiram dengan deras tubuhku dengan tekanan yang pas. Bahu, tengkuk dan belikatku rasanya seperti dipijat. Rasanya penat dan capek yang kurasakan turut larut bersama siraman air hangat dari shower. Aku tidak berlama- lama di kamar mandi, hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit.
Aku keluar dengan hanya mengenakan celana pendek boxer, karena aku lupa membawa baju tidurku ke kamar mandi. Sepertinya kini giliran Keisha yang tertegun melihatku. Aku agak jengah dan malu juga dilihat Keisha seperti itu.  

"Frank... Kamu latihan fitness ya?" tanya Keisha.
"Ah nggak, aku cuma latihan silat biasa. Paling juga sit up dan push up." Aku menjawab sambil menuju ke lemari pakaian untuk mengambil kimono tidurku dan mengenakannya. Keisha sudah tiduran di bawah selimut saat aku mengambil sebuah bantal untuk kupakai tidur di sofa.
"Mau ngapain kamu Frank?" tanya Keisha.
"Aku mau tidur di sofa." Jawabku singkat sambil tanganku mematikan tv.
"Ngapain tidur di sofa? Kamu tidur di sini aja bareng aku. Tempatnya cukup lebar buat kita berdua." Aku sepertinya tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. "Atau kamu memang nggak mau tidur sebelahan dengan aku?" sambung Keisha.  

"Kamu serius Kei?" tanyaku sambil tidak percaya.
"Ya! Kalau ada yang harus tidur di sofa, harusnya aku yang harus tidur di sofa, karena ini khan kamarmu!"
Tanpa ragu lagi aku segera menyusul Keisha menyelinap di bawah selimut. Hatiku berdebar kencang, rasanya seperti mau loncat keluar. Aku menatap langit- langit kamar.
"Kei..." aku menggenggam jemari tangan kanan Keisha dengan tangan kiriku. Kubawa jemari tangan Keisha ke dadaku.
"Coba kamu rasakan Kei..." Aku masih menatap langit-langit.
"Kenapa Frank? Dadamu berdebar kencang. Kamu sakit?" tanya Keisha dengan nada kuatir. Aku menggeleng sambil tersenyum ke arahnya. Kutatap Keisha dalam- dalam. Aku menarik napas panjang.  

"Entahlah Kei... Sejak aku ketemu kamu di stasiun bus tadi, aku rasanya seperti tak karuan. Apa ini yang namanya cinta ya Kei? Aku nggak tahu Kei... Apa ini cintaku yang dulu ke kamu, yang lama terpendam dan terkubur, yang sekarang bangun lagi?" Keisha melepaskan genggamanku, dan tangan lembutnya mengusap dadaku, lembut, perlahan. Jantungku rasanya seperti tak kuat lagi memompa. Keisha mencium pipi kiriku. Perlahan... lembut. Kubalas dengan mencium keningnya. Keisha memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati ciumanku di keningnya. Perlahan aku turun mencium mata kirinya, kususuri perlahan dengan bibirku hingga berakhir di mata kanannya. Kuelus lembut rambutnya dan kumainkan rambutnya dengan jemari tanganku. Kukecup hidungnya, kemudian bibirku perlahan menyusuri pipinya. Kukecup perlahan. Pelan-pelan, aku menyusuri pipinya. Ketika hendak kucium bibir Keisha, dia memalingkan wajahnya. Keisha perlahan membuka matanya.  

"Ssstt... Frank..." Keisha meletakkan telunjuk kanannya di bibirku.
"Kenapa Kei?" tanyaku ingin tahu. "Jangan dulu Frank... Kamu capek, aku capek, dan kamu harus bangun untuk pergi ke konferensimu itu. Ayo tidur Frank!" Duuuh... rasanya... Dan Keisha memelukku malam itu (eh... mungkin lebih tepatnya pagi, karena itu sekitar pukul tiga dini hari). Keisha mencium dadaku sebelum akhirnya terlelap dalam pelukanku.
Pagi itu aku bangun sekitar pukul delapan kurang seperempat saat alarm di sebelah tempat tidurku berbunyi. Aku masih dalam posisi memeluk Keisha yang juga masih memelukku. Kucium lembut keningnya, dan perlahan aku melepaskan pelukanku. Aku harus bersiap- siap ke konferensi. Bus jemputan dari hotel ke tempat konferensi akan berangkat tepat pukul sembilan. Teman-temanku satu sekolah janjian akan bertemu di lobby bawah seperti kemarin.  

Keisha tiba-tiba bangun dan bergegas menuju ke kamar mandi. "Pagi Frank... Sorry ya Frank, aku masuk kamar mandi duluan. Cuma sebentar kok." Aku cuma bisa melihat kelebatan Keisha yang segera menutup pintu kamar mandi. Aku menyiapkan baju dan setelan jas yang akan kupakai. Untung saja kemarin malam aku sudah menyetrika kemeja yang akan kupakai pagi ini.
"Nah, aku sudah segar sekarang Frank. Kamu mau aku pesankan makan pagi dari room service?" Keisha yang baru keluar dari kamar mandi langsung mencium pipiku. "Aku makan pagi di bawah aja Kei. Terima kasih. Kamu sendiri kalau mau pesan, silakan aja. Masukkan tagihannya di bill-ku aja." Keisha tidak menjawab, dia menuju ke arah mesin pembuat kopi dan menyalakannya.  

"Thanks Frank. Aku sih gampang. Aku bikinkan kopi ya Frank. Pakai gula dan krim?"
"Boleh Kei. Terima kasih. Aku suka pakai gula tiga bungkus, tanpa krim. Aku berberes dulu." Jawabku sambil kemudian masuk ke kamar mandi. Aku cuma mencuci muka dan menggosok gigiku. Aku segera mengenakan pakaian dalamku dan mulai mengenakan kemeja biru lengan panjang, menyusul celana panjang berwarna abu- abu muda, celana setelan jasku. Aku menyemprotkan parfum di belakang kedua telingaku dan pergelangan tangan, mengusap after shave di pipi dan dagu. Aku tak perlu menyisir rambut, karena potongan rambutku sangat pendek dan tidak ada bedanya kalau kusisir atau tidak. Hanya kusisir dengan jari-jari tanganku. Setelah selesai mematut di kaca, aku keluar dari kamar mandi.
Kulihat Keisha sedang mengaduk kopi untukku. Kemudian Keisha menghampiriku dan mengancingkan kemejaku di bagian leher, lalu Keisha mengambil dasi yang sudah kusiapkan dan dia melingkarkannya di leherku.  

"Kopimu sudah siap Frank. Sini biar aku pasangkan dasimu." Tangan Keisha dengan trampil melibat dan memasang dasi di leherku, " Dasimu bagus Frank. Desainnya aku suka."
"Terima kasih Kei. Dasi ini adalah hadiah ulang tahunku tahun lalu." Tentu saja aku tidak memberi tahu Keisha bahwa dasi Gucci ini adalah pemberian Jeanne. Dan memang, baru kusadari bahwa pakaian yang kukenakan hari ini semua adalah pemberian Jeanne dan Mitsuko. Mulai dari kemeja Calvin Klein, setelan jas double breasted Hugo Boss, ikat pinggang Bruno Magli, kaus kaki Johnston & Murphy dan sepatu Salvatore Ferragamo. Wah, aku tiba-tiba merasa bersyukur dengan perhatian mereka berdua. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba lewat di kepalaku, tapi perasaan itu dengan cepat hilang.  

"Kamu rencananya hari ini mau ke mana Kei?" tanyaku sambil menuju tempat di mana Keisha meletakkan kopi untukku. "Aku nggak punya rencana yang pasti. Paling juga jalan- jalan ke mall atau ke sekitar Michigan Avenue." Jawab Keisha. Aku mencicipi kopi yang dibuat Keisha.
"Thanks buat kopinya. Rasanya pas!" Perlahan, kunikmati kopi buatan Keisha.
Setelah meneguk satu tegukan kopi, " Kalau kamu sempat, mampir aja ke konjen kita di Michigan Avenue. Alamat pastinya aku lupa, tapi bisa kamu cari di buku telefon." Aku meneguk satu tegukan lagi, "Kamu bawa aja kunci kamar yang di atas meja itu, aku punya satu lagi kok."
"Kamu bakalan pulang jam berapa Frank?" tanya Keisha.  

"Nggak tahu, tergantung dengan teman-temanku. Kalau kamu mau, kamu bisa pakai mobil sewaanku. Nggak usah kuatir soal asuransi... Aku sudah masukkan namamu sebagai second driver waktu aku sewa mobil itu. Cuma, jangan lupa kamu fax fotokopi SIM-mu ke Hertz. Nomernya ada di dekat lampu meja itu. Kamu bisa pakai mesin fax di business center di bawah."
"Ah Frank... Kamu kok baik dan percaya banget sama aku sih?"
"Udahlah Kei, nggak usah kamu sebut-sebut lagi kalau aku baik. Nanti kepalaku jadi besar lho! Khan repot nantinya!" aku tersenyum, "Aku cuma berpikir praktis aja. Mobil udah disewa, terus ngapain dianggurin aja? Lagian, aku sudah bayar asuransi full cover, jadi kalaupun mobil itu kenapa- napa, udah ditanggung asuransi. OK... Aku pergi sekarang ya Kei, udah hampir setengah sembilan." Aku mengambil tas kerjaku. Keisha menghampiriku, kemudian dia memelukku. Kucium keningnya. Keisha memejamkan mata.  

"Hati-hati ya Frank. Selamat berkonferensi" Kemudian Keisha mengecup pipiku. Aku bergegas meninggalkan kamarku dan menuju lift, untuk kemudian berusaha mengejar makan pagi sebelum bus berangkat.
Hari ini rasanya waktu berjalan sangat lambat. Konferensi yang kuhadiri dengan para pembicara yang sangat ahli di bidangnya terasa sangat membosankan dan hambar. Berulang kali aku melihat pergelangan tanganku, berharap agar acara bisa segera berakhir. Teman-temanku dengan antusias masih membicarakan topik yang baru saja dibahas saat rehat minum kopi tiba. Aku bergegas menuju ke sebuah telefon umum. Ku telefon kamar hotelku. Tak ada yang mengangkat, berarti Keisha belum pulang, pikirku. Aku tidak meninggalkan pesan di mesin jawab. Aku juga menyempatkan untuk menelefon Jeanne dan Mitsuko. Mereka rupanya sedang tidak berada di tempat tinggal masing-masing. Tentu saja, pikirku terlambat, pukul tiga sore waktu Chicago berarti pukul satu siang di Los Angeles, pasti mereka sedang berada di suatu tempat. Aku berhasil menghubungi mereka di telefon genggam masing-masing. Pembicaraan kami tidak lama.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com