FIND MUSIC WEB VIDEOS: DOWNLOAD
tagtag.com/ceritaseru
Los Angeles, Musim Gugur 1996
Sejak Keisha menelefonku pertama kali, Keisha dan aku jadi sering berhubungan lewat telefon dan email. Terkadang kami bisa mengobrol berjam-jam di telefon. Aku pindah dari asrama kampus ke rumah Mitsuko tahun 1994 sejak aku lulus S1 dan tinggal bertiga bersama Jeanne dan Mitsuko. Pernah juga Jeanne dan Mitsuko menanyakan kepadaku siapa orang yang baru saja kutelefon agak lama. Aku jawab saja bahwa dia adalah temanku satu SMA dulu di Indonesia. Sejak saat itu Jeanne dan Mitsuko tidak pernah lagi bertanya-tanya.
Seperti ceritaku pada Keisha, setelah lulus S1 tahun 1994 aku meneruskan kuliahku ke tingkat master dan sekaligus mengambil dua jurusan, yaitu MBA dan Teknik Mesin. Program MBA kuselesaikan tahun 1995 dan program Teknik Mesin baru saja kuselesaikan bulan Mei tahun ini. Ketua Jurusanku menawarkan bea siswa untuk program doktor kepadaku. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku menerima tawaran itu dan juga bekerja sebagai salah satu staf pengajar mahasiswa S1. Jeanne sendiri menyelesaikan program S1 Akuntansinya tahun 1995 dan langsung diterima kerja di sebuah biro akuntansi publik. Sementara Mitsuko baru saja lulus S1 Matematika bulan Mei tahun ini. Mitsuko sekarang bekerja sebagai seorang guru Matematika dan Fisika di sebuah sekolah menengah atas.
Keisha dan aku makin dekat dalam artian obrolan kami makin berbobot, bercerita tentang pribadi dia, keluarganya dan bahkan segala macam persoalan dan permasalahannya. Dia juga menceritakan betapa hubungannya dengan ibundanya tidak semulus hubungannya dengan ayahnya. Dia tidak terlalu terkejut ketika mengetahui bahwa aku mempunyai dua orang kekasih, satu dari Cina dan satu dari Jepang.
"Kei... liburan Thanksgiving nanti aku bakalan ada acara nih di Chicago." Kataku pada suatu percakapan telefon dengan Keisha.
"Emang kamu ada acara apaan di Chicago?"
"Jurusanku nyuruh aku ke sana buat ikutan acara temu ilmiah tentang teknologi jet dan propulsi. Kamu sendiri ada acara nggak buat liburan Thanksgiving nanti?"
"Sampai saat ini sih nggak ada. Hmm... menarik juga ya kalau kita bisa ketemu di Chicago? Emangnya kamu udah fix bakalan ke sana?"
"Ya, ini jadwal harianku plus tempat nginepku udah ada di tanganku sekarang ini. Aku baru dapet hari ini." Aku memang kala itu sedang menelefon Keisha sambil membaca jadwal acara untuk ke Chicago menghadiri semacam konferensi asosiasi insinyur teknik se-
Amerika Serikat, sebagai wakil pelajar dari UCLA. "Aku bakalan nginep di salah satu hotel dekat downtown." Kataku lebih lanjut.
"Wah, hotel-
hotel di downtown hampir semuanya bagus-bagus. Jauh dari tempat konferensinya Frank?"
"Nggak juga tuh. Katanya sih ada shuttle bus-nya. Gimana? Mau ketemu di Chicago?"
"Nantilah aku kabari. Masih sebulan lagi khan? Aku pengin juga sih ketemu kamu di Chicago sana. Dari tempatku paling sekitar sembilan jam naik Greyhound."
"Kalau memang kamu bakalan ke Chicago, aku nanti di sana akan sewa mobil sendiri dari airport. Rencananya aku ke sana bareng sama tiga orang temanku yang lainnya. Biar mereka bareng-
bareng. Kalau kamu mau, kamu juga bisa ikutan ke konferensi itu sambil iseng liat-
liat."
"Lihat nantilah Frank. Aku mesti ke perpustakaan kampus sebentar nih sebelum tutup. Sorry ya Frank, kita udahan dulu. Besok aku telefon kamu lagi."
"Ya udah kalau gitu. Sampai besok ya Kei."
"Daaag Frank..." kata Keisha menutup percakapan telefon kami malam itu. Aku pun membalasnya, dan kemudian meletakkan gagang telefonku ke tempatnya. Aku tersenyum sendiri.
... and I want you here with me...
from tonight until the end of time.
You should know, every where I go,
You're always on my mind, in my heart, in my soul...
Baby, you're the meaning in my life, you're the inspiration...
Peter Cetera melantunkan lagu "You're the Inspiration" di CD player yang secara iseng kudendangkan. Aku merasa sepertinya aku sedang kasmaran lagi. Seolah-olah bara api yang tersimpan sejak SMA dulu kembali perlahan menyala di dada.
--------------
Chicago, Liburan Thanksgiving 1996
Chicago, yang dijuluki "Kota Berangin" (windy city) oleh masyarakat Amerika Serikat karena anginnya yang nyaris tak pernah berhenti, memamerkan kemegahan dan gemerlap lampu-
lampu malam yang kulihat dari jendela kamarku. Hotel yang kutinggali terletak di dekat downtown kota Chicago. Dari ketinggian lantai kamarku, aku bisa melihat keindahan Danau Michigan yang dihiasi bayangan rembulan. Jalanan di depan hotel tampak lengang,
tentu saja, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Terus terang aku cemas, karena hingga saat itu Keisha belum menelefon ke hotel. Kami sepakat bahwa Keisha akan menelefon ke hotel setibanya di stasiun bus Greyhound untuk kujemput dan kuantar ke hotel. Dia tidak keberatan untuk tinggal sekamar denganku. Kuingat percakapan kami di telefon saat dia mengabarkan bahwa dia akan pergi ke Chicago untuk menemuiku.
"Frank, kemungkinan besar aku bakalan bisa pergi ke Chicago nih!" kata Keisha suatu hari di telefon.
"Bagus! Gimana rencanamu?" tanyaku penuh antusias bercampur girang.
"Kalau memang liburan Thanksgiving nanti aku nggak banyak pe er dan kerjaan, rencananya aku bakalan ke Chicago naik Greyhound. Aku mulai libur hari Kamis, jadi pagi-
pagi aku bisa berangkat dan sampai di Chicago masih siang atau paling telat sorean. Aku bisa langsung ke hotelmu dan ketemu kamu di sana."
"Aku nanti bakalan sewa mobil di sana. Gimana kalau aku jemput kamu?" aku menawarkan untuk menjemput Keisha dengan mobil yang akan kusewa, "
terus, aku bisa pesan kamar dengan double bed dan kamu bisa tinggal satu kamar denganku kalau kamu memang nggak keberatan." Kataku hati-hati, takut menyinggung perasaannya.
"Frank, aku terima tawaranmu untuk tinggal satu kamar denganmu kalau memang kamu nggak keberatan. Itung-itung bisa ngirit ongkos nginep,
" Keisha menjawab sambil sedikit tertawa, "tapi kamu nggak perlu jemput aku karena aku bisa naik taksi dan aku sendiri nggak tahu bakalan sampai jam berapa di Chicago. Aku juga nggak mau mengganggu jadwalmu. Kita ketemu aja di lobby hotel tempatmu menginap. Kalau kamu belum pulang, aku bisa nunggu."
"OK, gitu juga nggak apa-apa, Kei."
"Thanks a lot lho Frank!"
"Ah, sama-sama Kei... Toh hotelnya bukan aku yang bayar ini." Kataku sambil pikiranku melayang jauh ke depan, membayangkan Keisha bakalan tidur sekamar denganku. Baru memikirkannya saja, hatiku jadi berdebar lebih kencang. Seperti apa ya Keisha sekarang?
Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh bunyi dering telefon di kamar hotelku. Secara refleks aku segera bergegas mengangkat gagang telefon.
"Hello..." kataku penuh harap agar si penelefon adalah Keisha. Ternyata... "Frank... Ini aku Frank! Aku ada di Greyhound Bus Station," suara Keisha. Aku lega. "nanti aku ceritakan kenapa aku bisa sampai telat begini. Aku bisa minta tolong untuk dijemput Frank?"
"Tentu Kei! Kamu nggak apa-apa khan?"
"Nggak, aku sehat, cuma aku agak capek nih!"
"OK, jangan ke mana-mana ya Kei! Aku sesegera mungkin ke tempatmu. Kamu tunggu di tempat duduk di depan loket ya, biar gampang aku nemuin kamu." Kataku bersemangat.
"Terima kasih banyak ya Frank, aku tunggu kamu di tempat duduk di depan loket." Keisha mengulang permintaanku.
"Sampai ketemu Kei..." aku menutup gagang telefon setelah Keisha membalas salamku. Aku bergegas membuka buku telefon halaman kuning. Kucari alamat stasiun bus Greyhound di kota ini berikut lokasinya di peta. Kususuri jalanan utama yang akan kulalui dari hotel ke stasiun bus di peta dengan jari telunjuk kananku. Kucatat setiap perempatan dan pertigaan yang harus kulalui berikut nama jalannya. Kusobek halaman peta dari buku telefon halaman kuning dan kukantongi berikut catatanku. Aku mengenakan jaket kulitku dan meraih kunci mobil sewaanku berikut kunci elektronik hotel. Tak lupa kuraih pula radar detector mobil yang selalu aku bawa. Aku mematikan televisi hotel yang sedang menyiarkan acara berita CNN.
Aku sampai di garasi mobil di lantai bawah tanah hotel beberapa menit kemudian. Aku merasa sepertinya lift berjalan sangat lambat. Kunyalakan mobil sewaanku, Ford Contour keluaran terbaru. Kupasang radar detector yang kubawa. Biasanya aku tidak pernah ngebut di jalanan kecuali kalau terpaksa dan aku terburu-buru. Aku selalu menikmati perjalananku bila aku mengendarai mobil (apalagi motor!)
Begitu keluar dari pintu gerbang garasi dan berada di jalanan, aku segera menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil transmisi otomatis yang kusewa berusaha untuk menuruti kemauanku. Akselerasi mobil ini tidak sebagus BMW 325i M3 milik Jeanne tentu saja. Pertama, jelas mesin standar Ford Contour bukan kelas yang sebanding dengan BMW 325i bermesin sport M3. Kedua, BMW milik Jeanne bertransmisi manual yang bisa kugeber hingga RPM tinggi untuk akselerasi, sedangkan transmisi otomatis tidak bisa. Belum mencapai RPM bergaris merah sudah "memaksa" pindah gigi secara otomatis. Karena alasan inilah maka mengapa aku tidak terlalu suka dengan mobil bertransmisi otomatis. Di tempat persewaan mobil, aku tahu bahwa mereka biasanya menyediakan hanya mobil-mobil Amerika dan bertransmisi otomatis (kecuali tempat persewaan mobil eksotis), tapi aku secara iseng menanyakan kalau mereka menyediakan mobil Toyota Supra atau paling tidak Toyota Celica dengan transmisi manual. Seperti dugaanku, jawaban mereka adalah "
tidak". Ya sudah, akhirnya kupilih Ford Contour,
paling tidak menurutku ini adalah yang terbaik dari pilihan yang ada.
Setiap kali aku menikung, selalu terdengar decit suara ban mobil yang berusaha tetap menapak pada aspal jalan. Kebetulan jalanan sudah relatif sepi dan lengang, jadi aku bisa dengan lebih leluasa "
memburu waktu" untuk sesegera mungkin tiba di stasiun bus Greyhound. Setiap kali aku "harus ngebut", aku merasa bersyukur karena pernah mengikuti kursus singkat mengemudi secara profesional yang diadakan oleh salah seorang pembalap internasional yang bekerja sama dengan sebuah majalah otomotif internasional di Sacramento California.
Tak berapa lama, aku telah memarkir mobil sewaanku di halaman parkir stasiun bus Greyhound dan bergegas menuju ke loket. Ada banyak orang di dalam stasiun bus. Biasanya, yang kutahu, stasiun bus Greyhound di tempat lain tidaklah seramai ini, apalagi ini telah lewat tengah malam. Mungkin karena liburan Thanksgiving. Mataku mencari-cari sesosok tubuh yang kukenal.
Keisha... Hatiku berdebar kencang saat kulihat sesosok tubuh yang sangat kukenal dan pernah membuatku "jatuh bangun" karena rasa kasmaran sewaktu di SMA. Biarpun tubuhnya dibalut oleh jaket tebal, tapi dari pergelangan tangannya yang memegang buku masih kukenali tubuh kurusnya. Keisha mengenakan celana jins biru belel. Wajahnya tertutup buku. Ada headphone di kepalanya. Rupanya dia sedang mengisi waktunya dengan membaca buku sambil mendengarkan musik dari walkmannya, salah satu kebiasaannya yang aku tahu persis. Potongan rambutnya masih seperti dulu zaman di SMA, pendek sebahu. Kaca matanya masih model yang sama, atau paling tidak mirip dengan yang aku kenal. Aku diam-diam berdiri di depannya. Keisha untuk beberapa saat tidak menyadari karena mungkin sedang menikmati bacaannya.
"Heiiii... Sudah berapa lama kamu berdiri di situ?" tanya Keisha terkejut begitu dia menyadari kehadiranku. Aku hanya tersenyum. Kami berdua seperti terpaku. Untuk beberapa saat, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku. Dan Keisha sepertinya juga tertegun melihatku. Duuh... bibirnya yang penuh dan merah merekah alami tanpa polesan pemerah bibir masih tetap seperti dulu, malah sekarang kelihatan lebih seksi lagi karena seperti basah. Mungkin dia melapisinya dengan pelembab bibir, mencegah agar bibirnya tidak pecah di musim gugur yang kering ini. Mendadak, aku lupa dengan diriku sendiri. Lupa dengan Jeanne dan Mitsuko.
"Frank...,"
Keisha berdiri sambil menepuk lengan kananku. Aku salah tingkah, aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tetapi Keisha malah memelukku. Aku jadi serba salah. Secara kikuk aku juga balas memeluknya. "Gila Frank! Kamu kok jadi gede gini? Makan apaan kamu bisa segede gini sekarang?" Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku membantu Keisha membawakan tas jinjingnya (duffle bag). Dia sendiri mengenakan tas punggungnya.
"Gimana kabarmu,
Kei? Sorry kalau kamu terlalu lama nunggunya." Kataku berbasa-basi.
"Ah, Frank... Kok mendadak kamu jadi canggung gini sih? Ada apa?"
"Sorry Kei, rasanya kayak mimpi aja kita bisa ketemu di sini setelah sekian lama kita nggak ketemu sejak terakhir kali di SMA dulu dan akhirnya kita bisa ngobrol di telefon. Berapa tahun yang lalu ya itu?" "I ya ya Frank... Kita emang terakhir kali ketemu ya waktu perpisahan di SMA dulu. Itu tahun 1988 Frank,
delapan tahun yang lalu. Tak terasa ya waktu bisa begitu cepat berlalu?" Keisha memegang tangan kiriku dan menggandeng tangan kiriku. Kudiamkan saja. Hatiku masih saja berdebar tidak karuan. Ada rasa "
aneh" yang terasa naik turun di dadaku yang membuatku seperti susah berbicara.
"Gimana perjalananmu Kei?" tanyaku.
"Kamu pasti ketawa deh Frank kalau kuceritakan. Ceritanya aku khan kesasar! Harusnya aku turun di Chicago,
tapi karena ketiduran, aku keterusan sampai ke sebuah kota kecil kira-kira dua jam dari Chicago! Bayangkan betapa kesalnya aku. Akhirnya aku turun di kota itu dan menunggu bus yang berangkat ke Chicago. Aku harus nunggu kurang lebih tiga jam. Jadi, tujuh jam kebuang percuma. Rasanya aku capek, mungkin karena ditambah dengan kesal ya Frank."
"Pantesan aja. Kamu tahu nggak Kei, aku cemas sekali memikirkan kamu karena sampai hampir tengah malam kamu nggak telefon. Aku sampai-sampai berpikir kamu kenapa-
napa."
"Masa Frank?" Keisha bertanya sambil matanya berbinar-
binar menatapku.
"Ya..." jawabku sambil mengangguk dan tersenyum.
Tak terasa kami sampai di pelataran parkir. Kubuka bagasi mobil sewaanku untuk menyimpan tas jinjing Keisha. Kemudian kubukakan pintu untuk Keisha. Setelah Keisha duduk,
kututupkan pintu mobil. Keisha membukakan kunci pintu mobil untukku. Kami berdua memasang sabuk pengaman dan aku mulai menjalankan mobil yang kubawa.
Aku mengendarai mobil secara normal, sesuai dengan kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Kulirik wajah Keisha. Nampak garis-garis kelelahan dari perjalanannya ke Chicago ini. Dari samping, bibirnya yang sensual benar-benar membuatku "
kebat-kebit". Untuk beberapa saat, tak ada suara pun yang keluar dari kami berdua.
"Oh ya Kei, aku punya spesial kaset yang aku rekam dari LA. Mudah-mudahan kamu masih ingat dengan lagunya." Kataku membuka pembicaraan.
"Lagu apaan Frank?"
"Denger aja sendiri..." kemudian aku memasukkan kaset yang ada di tape mobil dan memutar kenop volume. Keisha memperhatikan sungguh-sungguh. Tak lama kemudian terdengar sebuah intro lagu dengan dentingan piano...
Citra biru... citra khayalku,
membawaku ke alam yang semu,
berkabut kelabu, aku semakin ragu...
"Frank! Citra Biru-nya Vina Panduwinata!" seru Keisha sambil matanya berbinar-
binar. Keisha memang orangnya sangat ekspresif.
"Ya, masih ingat ada apa dengan lagu ini?" tanyaku ingin tahu.
"Tentu aja masih Frank! Aku sekarang kalau mendengar lagu ini jadi tersenyum sendiri. Tapi waktu dulu... wuuuu aku sebel banget! Rasanya benci banget kalau ingat lagu ini."
(Duuuh bibir itu...)
"Kenapa sebel dan benci Kei?"
"Abis... aku inget banget gimana aku didaulat teman-teman untuk nyanyi di malam perpisahan SMA dengan iringan piano yang kamu mainkan. Aku bisa melihat matamu tersenyum nakal ngegodain aku, biarpun kamu waktu itu nggak ngomong apa-apa. Kalau nggak salah, kita ngadain acaranya di rumahnya si Bagas ya?"
"Hehehe... Ya, aku masih ingat banget kejadian di rumah si Bagas itu. Biarpun kamu keliatan sebel banget sama aku, tapi toh akhirnya kamu mau juga untuk didaulat nyanyi. Kamu tahu nggak, kejadian itu sangat membekas di ingatanku, tepi dengan hasil yang berbeda dengan punyamu." Aku tersenyum kepada Keisha. "Aku suka banget dengan suaramu yang merdu dan enak didengar, sebagaimana teman-
teman yang lain juga setuju." Kataku lebih lanjut tanpa bermaksud untuk memuji.
"Ah, Frank... Kamu cuma ingin menyenangkan hatiku aja."
"Kei, kalau nggak gitu khan kamu nggak sering banget disuruh nyanyi sama banyak orang. Tahu nggak Kei, setiap kali aku mendengar lagunya si January Christy, yang kebayang di kepalaku adalah kamu. Aku punya sebuah fotomu yang aku suka sekali. Foto itu diambil oleh Bobby waktu kamu lagi istirahat makan sesudah acara OSIS waktu kita masih kelas satu. Di foto itu kamu sedang asyik makan, duduk di atas meja dengan kaki disilangkan, dan yang paling membuatku suka sekali adalah ekspresi kagetmu yang sempat terekam di foto. Matamu melotot dan bibirmu waktu itu sangat... mmm... menarik sekali!"
"Hahaha... aku ingat Frank, foto mana yang kamu maksud. Si Bobby memang kurang ajar sekali! Aku nggak berhasil merebut foto itu dari tangannya waktu dia pamerkan ke aku sesudah dia cetak, yang akhirnya aku tahu foto itu jatuh ke tanganmu. Aku sebel banget sama kamu dan Bobby waktu itu. Kamu masih menyimpan foto itu Frank?"
"Masih, tapi ada di Indonesia. Tersimpan rapi di sebuah album foto yang sangat istimewa buatku."
"Huuuu... segitunya!" aku hanya menjawab dengan senyuman. Aku meraih tangan Keisha. Jari-jari tangan kananku secara lembut dan perlahan memegang dan menggenggam jari-
jari tangan kiri Keisha. Keisha tidak bereaksi.
"Kei..." aku menarik napas panjang.
"Frank..." perlahan Keisha membalas genggaman tanganku dengan memainkan jemari tanganku. Keisha melihat ke arahku. Kami berpandangan sejenak dan saling tersenyum. Ugh... rasa "aneh"
itu kembali terasa di dadaku. Vina Panduwinata telah selesai menyanyikan lagu "Citra Biru"nya. Kemudian kaset yang kurekam untuk Keisha meneruskan dengan lagu kedua.
Kulihat Keisha tersenyum, "
Frank kamu memang bener-bener kurang kerjaan pakai ngerekam lagu-lagu ini. Masih sebel kalau denger lagu ini Frank?" tanya Keisha tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Ah nggak tuh, malah, aku sekarang suka senyum-senyum sendiri kalau mendengar lagu ini. Lagian, Chrisye memang salah seorang penyanyi favoritku."
Home Site Map my.TagTag
Terms of Use
TagTag.com