mobile? Track Anyone With Your Phone NOW!!!

tagtag.com/ceritaseru

Medan, Agustus 1985  

Seorang gadis kurus semampai baru saja berjalan memasuki pintu gerbang sekolahku. Gadis itu berkaca mata, rambut pendek cepak sebahu dan memanggul tas ransel buatan Jayagiri berwarna ungu, berseragam putih dengan rok abu-abu. Tak ada yang istimewa dari gadis ini. Kurus, malah nyaris dibilang ceking, berdada nyaris rata dan bersikap sangat tomboi. Cantik? Itu relatif. Kalau kata salah seorang temanku, cantik itu relatif, tapi jelek itu absolut. Tapi entah mengapa, begitu melihat dia pertama kali itu (hari itu adalah hari pertama aku masuk SMA), aku jadi sangat tertarik padanya. Baru kutahu kelak bahwa yang membuatku sangat tertarik padanya adalah bibirnya yang sangat seksi dan merah merekah segar walaupun tanpa polesan lipstik, yang selalu tersungging seperti orang yang sedang melecehkan orang lain. Kakinya juga mulus dan jenjang berwarna putih. Waktu itu aku tidak berani menegur. Aku juga tidak tahu mengapa, tapi kuikuti dia dengan pandangan mataku ke arah kelas mana dia masuk. Satu tiga! Sorakku dalam hati. Dia anak kelas satu tiga. Aku punya banyak koneksi dan teman di kelas satu tiga, teman-teman satu SMP dulu. Aku tersenyum sendiri dan bersiul kecil kembali ke kelasku, satu lima, yang melintasi kelasnya. Kutengok sejenak sambil lalu kelas satu tiga. Dia sedang berbicara dengan sekelompok teman sekelasnya. Mungkin ajang perkenalan antar siswa baru.  

Waktu istirahat pertama, masih hari pertama...  

"Bob, kamu tau siapa nama cewek itu?" tanyaku ke Bobby sambil menunjuk ke arah gadis yang menarik hatiku. Bobby adalah salah seorang temanku di kelas satu tiga. Dia dijuluki " Bobby Gele" karena matanya yang redup sayu (seperti mata Sylvester Stallone) seperti orang yang habis "fly".
Bobby menengok melihat ke arah yang kutuju, "Oh, dia, si Keisha. Dia dari Lubuk Pakam. Kenapa emang? Ada minat?" Bobby mengedipkan matanya.
"Kei... Sini! Ada yang pengen kenal nih!" tiba-tiba Bobby memanggil Keisha. Keisha yang lagi asyik ngobrol lalu memecah perhatiannya ke arah Bobby. "Siapa? Suruh ke sini dong!" Aku didorong Bobby untuk pergi ke arah Keisha. Aku menurut.  

"Hai!" kuulurkan tanganku yang disambut Keisha. "Frank. Frankie Harahap." Kataku singkat memperkenalkan nama.
"Keisha. Keisha Saraswati." Dia tersenyum kemudian kembali asyik dengan obrolannya dengan teman-temannya lagi. Aku seolah-olah tak diperdulikannya, dianggap seperti tidak ada. Aku jadi serba salah.
"Emmm... aku ke kantin dulu ya. Bentar lagi bakal abis nih istirahatnya. Mau ikut?"
"Nggak deh. Thanks!"
Aku buru-buru keluar dari kelas satu tiga sambil menggerutu dan mengumpat dalam hati. Bobby yang melihatku cuma tersenyum. Dia menjajari langkahku yang menuju kantin.  

"Tenang Frank! Doi emang gitu. Lu suka ya ama dia?" aku memesan semangkuk soto mi. Kulirik jam tanganku, masih ada sekitar lima menit lagi. Masih cukup buat makan. Telat dikit nggak apa-apa, hari pertama ini, pikirku. Aku duduk di sebuah bangku panjang menunggu soto mi pesananku.
"Sialan tuh cewek! Masak gitu doang dan aku dicuekin gitu!" gerutuku sambil mengunyah sepotong emping goreng kesukaanku yang tersedia di meja makan dalam toples.
"Si Keisha emang bawaannya gitu. Tapi anaknya asyik kok kalo lu udah kenal ama dia." Bobby memberi saran.
"Nggak pesen juga Bob? Aku bayari deh!" tawarku.  

"Nggak, makasih. Aku pesen bakso aja ya?" aku cuma mengangguk. Pelayan kantin datang dengan pesanan soto miku. "Mbak, pesan baksonya satu porsi ya, buat dia tuh." Si Pelayan Kantin, Mbak Rini namanya, asli dari Jawa Tengah. Hitam manis, mungil dan murah senyum walaupun sangat pendiam.
"Bob, kok kamu tahu banyak soal Keisha, padahal hari ini khan hari pertama masuk dan dia nggak satu SMP dulu dengan kita? Itu seingatku lho?" tanyaku sambil menyuap sesendok kuah soto mi.
"Kebetulan, dulu jaman gue masih SD dan tinggal di Lubuk Pakam, rumahnya tetanggaan ama rumah gue. Percaya apa nggak, si Keisha dan kakaknya itu temen main layangan gue. Si Keisha hobinya main layangan di atas atep rumahnya."
"Oooo gitu jadinya?"  

Pesanan bakso Bobby datang bersamaan dengan dering bel masuk kelas lagi. Akhirnya kami sepakat untuk " menghilang" selama satu mata pelajaran hingga bel berikutnya. Hari pertama, ngabur pertama.
Sejak hari pertama masuk SMA itu, aku mencoba untuk sering berbincang-bincang dengan Keisha, tetapi sepertinya dia tidak pernah mau untuk melayaniku dan selalu berusaha untuk menjauhiku. Aku semakin penasaran dan semakin tertarik dengannya. Dengan bantuan beberapa teman dekatku semasa SMP dulu (yang sekarang juga berteman dekat dan sekelas dengan Keisha), aku mencari tahu tentang Keisha.  

Ternyata ayahnya adalah salah seorang profesor Fisika Nuklir yang dimiliki Indonesia dan ibunya adalah seorang guru Bahasa Jerman. Suatu kombinasi yang sangat jarang menurutku. Kakak laki-lakinya yang dua tahun lebih tua dari dia bersekolah di sebuah SMA swasta di Medan dan adik perempuannya yang masih SMP kelas 2 masih tinggal bersama orang tuanya di Lubuk Pakam. Keisha ternyata mempunyai suara yang merdu. Dengan suaranya yang merdu itu, membuat dia sering didaulat untuk menyanyi di setiap acara lokal seperti acara tujuh belasan, sumpah pemuda dan semacamnya.  

Akhirnya di kalangan murid-murid SMA kelas satu di sekolahku beredar gosip yang mengatakan bahwa si Frankie Harahap satu lima sedang kasmaran dengan Keisha Saraswati dari satu tiga. Beberapa murid perempuan seringkali tersenyum-senyum ke arahku setiap kali berpapasan denganku. Entah apa maksud mereka. Sementara beberapa teman laki-lakiku suka sekali menanyakan perkembangan " hunting"-ku. Aku biasanya hanya menjawab dengan senyuman dan berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah topik lain.  

Teman laki-lakiku banyak yang heran denganku. Ada banyak perempuan lain yang cantik- cantik yang " mengerubuti"ku yang (kata mereka) bisa dengan mudah aku dapatkan, tetapi aku malah lebih suka mengejar si Keisha yang tomboi, kurus dan "tidak menarik". Itu kata sebagian besar teman-temanku lho. Memang harus kuakui bahwa ada banyak teman perempuanku yang dekat (dalam artian bisa ngobrol panjang lebar dan bercanda beramai- ramai) dan cantik- cantik yang kemungkinan besar mau saja kujadikan sebagai pacarku. Ada Sari yang berkulit sawo matang mulus dan bermata jernih. Thres, gadis manis berkulit putih bermata lebar dengan pinggul yang sangat seksi, hasil perpaduan Batak, Cina dan Arab yang mengalir di darahnya. Atau Renata? Gadis mungil berkaca mata minus yang selalu ceria dengan cerita- ceritanya, dengan hidung mungilnya yang terkadang berwarna merah jambu kalau alergi sinusnya sedang kambuh. Belum lagi Sinta yang selalu memakai rok relatif pendek (untuk ukuran anak kelas satu) dan kaos kaki pendek, menonjolkan paha dan betisnya yang mulus tanpa cela, sehingga murid-murid perempuan kelas dua dan tiga seringkali mencibir ke arahnya. Tidak, bukannya aku tidak tertarik dengan mereka, tetapi mungkin ini yang dinamakan " no chemistry". Kami memang sering bepergian bersama ke pusat-pusat perbelanjaan sepulang sekolah dan aku sering menraktir mereka di sebuah restoran Padang favorit kami. Ini semua tidak membuatku bisa melupakan bayangan Keisha.  

Suatu hari aku mendengar sebuah kabar yang menjengkelkanku. Dari seorang temanku yang " melaporkan" padaku, kuketahui bahwa salah seorang anak satu empat yang bernama Robert, seringkali menggoda Keisha sehingga Keisha marah. Waktu itu, aku merasa seperti " kebakaran jenggot". Pada jam istirahat kedua, kutunggu Robert di WC. Aku tahu, pasti dia akan ke WC pada jam istirahat ini dan kemudian ke kantin memesan sepiring siaomay, sebagaimana kebiasaan dia selama ini. Di kalangan murid- murid laki-laki SMAku, WC laki-laki ini seringkali disebut sebagai " pengadilan", tempat di mana para murid laki-laki " menyelesaikan" masalah. Benar juga. Robert masuk ke dalam WC sambil ngobrol dengan salah seorang murid satu empat. Kuhampiri keduanya.  

"Hey... gue punya sedikit urusan sama lu." Kataku ke Robert dengan sikap yang sepertinya " ngejago" (kata salah seorang temanku yang kebetulan melihatku). Teman Robert segera menyelesaikan " urusannya" di WC.
"Apaan?" tanya Robert tak kalah.
"Gue denger lu sering ngegodain si Keisha sampai-sampai si Keisha marah ya?
"Emang apa urusannya ama lu?"
"Nggak ada sih, tapi gue ingetin ama lu, jangan sekali- kali lu godain si Keisha lagi!" kataku tegas cenderung seperti mengancam. Bagi orang lain yang melihat, situasi tidak berpihak padaku. Tapi aku tak perduli. Bayangkan saja, waktu SMA kelas satu, beratku sekitar 50 kg dengan tinggi 170 cm kurus seperti tiang listrik, sedangkan Robert berbobot sekitar 75 kg dengan tinggi lebih dari 180 cm (dia masuk tim basket dan voli sekolahku), ditambah pula dengan otot yang terlihat kekar. Jadinya terlihat lucu kalau aku yang kurus ini " mengancam" Robert yang tinggi besar.  

"Lu kok ngejago banget sih! Apa yang lu andelin?" kata Robert sambil mendorong dadaku. Aku terdorong ke belakang. Kupegang tangan Robert yang mendorongku untuk menjaga keseimbanganku agar aku tak jatuh. Robert menarik tangannya sambil menjambret seragam sekolahku. Akibatnya aku kehilangan beberapa kancing baju dan saku seragamku sobek lepas.
" Hyaaattt..." teriakku.
Sambil mundur, aku melancarkan sebuah tendangan sabit ke arah rusuk Robert dan masuk telak. Robert terdorong ke belakang membentur dinding WC. Belum sempat dia memperbaiki posisi, kususul seranganku dengan sebuah pukulan ke arah hidungnya. Sekali lagi, telak menghajar hidungnya hingga darah mengalir dan membasahi buku-buku jari tangan kananku. Kurasakan rusuk kiriku nyeri dan aku terhuyung ke belakang. Tak kusadari bahwa sebuah pukulan Robert juga sempat mampir telak di rusuk kiriku.  

Kejadian itu sangat cepat. Tiba-tiba datang dua orang dari kelas dua atau kelas tiga yang dengan cepat dan sigap memegangi tangan kiri kananku.  

"Lu mau ngejago di sekolah ini ya!!!" bentak salah seorang dari mereka yang memegangi tangan kananku dengan kedua tangannya. Secara refleks aku menendang perutnya yang kususul dengan tendangan kaki kiriku ke arah satu orang lagi yang memegangi tangan kiriku. Kedua orang itu terhuyung ke belakang sambil memegangi perut mereka.  

"Kalian nggak usah ikut-ikutan!!! Ini urusan gue sama dia!!!" bentakku tak kalah keras. Aku sedikit mundur dan memasang sikap "Putri Berhias" menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi. Kedua " senior" yang aku tendang perutnya tidak bergerak maju, mereka masih memegangi perut mereka sambil meringis kesakitan. Robert membuat kuda- kuda " kamae" dengan kedua tangannya mengepal di depan dada setelah terlebih dahulu menyeka darah yang mengucur dari hidungnya. Menilik sikapnya, aku menduga dia paling tidak pernah belajar beladiri, mungkin karate atau taekwondo. Darah segarnya masih mengalir dari hidungnya yang pecah kuhantam.  

Beberapa detik, Robert dan aku berdiri saling bersiap untuk menyerang, seperti dua ekor ayam jago yang saling mengukur kekuatan lawan. Kejadian itu tidak berlangsung lama, karena secara bersamaan dan dengan cepat, beberapa temanku menyerbu masuk ke dalam WC laki-laki. Aku masih ingat, Dadang sahabatku sejak SMP, memelukku dan seperti menyeretku untuk keluar dari WC dibantu oleh Bobby yang menarik celana abu-abuku dari belakang. Beberapa orang juga merangkul dan memeluk Robert di sisi lain.  

"Lu kalau mau ribut jangan di sini! Nanti aja pulang sekolah! Bisa- bisa lu kena skors kepala sekolah!" kata Dadang dengan tegas di telingaku. Sayup-sayup kudengar makian dan tantangan Robert dari dalam WC. Aku di bawa kembali ke kelasku. Iwan, yang dijuluki "Anak Tangsi" karena ayahnya adalah seorang perwira TNI AD, mendatangiku. Wajahku masih tegang. Baru sekarang kurasakan kembali nyeri di rusuk kiriku.  

"Frank... Gue tau lu orangnya panasan dan nggak bisa terima perlakuan si Robert. Cuma gue minta, kalau memang lu berdua mau berantem, jangan bawa-bawa senjata. Gimana-gimana lu berdua khan masih satu sekolah." Anjurannya bijaksana juga. Aku sendiri tak pernah terpikirkan untuk berkelahi dengan menggunakan senjata pada waktu SMA dulu. Aku berjanji untuk menyanggupinya.  

Di depan kelas satu empat dan satu lima banyak berkumpul murid-murid laki- laki untuk memastikan bahwa Robert dan aku tidak kembali berkelahi dan melakukan kebodohan. Masing-masing berkerumun dan mendengarkan cerita yang mereka dapatkan dari para saksi mata yang kebetulan melihat perkelahian singkatku dengan Robert.  

Pulang sekolah aku menunggu Robert di tikungan gang dekat kantor telefon yang pasti akan dilaluinya untuk pulang ke tempat kosnya. Ada banyak teman- temanku, ya laki- laki ya perempuan, yang juga menunggu sambil berkerumun dan ngerumpi. Rupanya mereka semua ingin melihat " pertandingan" gratis. Hingga pukul setengah tiga sore aku menunggu, Robert tak pernah kelihatan batang hidungnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Banyak temanku yang tadinya ingin menonton sudah membubarkan diri karena menunggu terlalu lama dan akhirnya sisanya juga membubarkan diri begitu aku memutuskan untuk pulang. Hingga kini Robert dan aku tidak pernah lagi berbicara sepatah kata pun, dan kami belum pernah berkelahi lagi sejak kejadian di WC SMA dulu. Belakangan, kuketahui bahwa Robert adalah seorang karateka Lemkari (Lembaga Karate-do Indonesia) pemegang sabuk hitam Dan 1 dan pernah menjadi juara junior kumite (pertarungan) bebas sekota Medan. Aku sendiri waktu kejadian itu baru kurang lebih setahun belajar silat yang kutekuni hingga kini dan masih tingkat Dasar Dua.  

Keesokan harinya Keisha pagi-pagi datang menemuiku di kelasku. Aku sudah kegirangan. Aku pikir Keisha akan menghargai usahaku kemarin "membela" dirinya terhadap gangguan Robert. Rupanya aku salah!
"Frank... Gue mau bicara ama lu!" kata Keisha agak judes. Aku agak heran juga dengan sikapnya yang di luar dugaanku.
"Ada apa?"
"Gue nggak butuh bantuan lu ngebelain gue segala!"
"Bantuan apa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Apa-apaan lu kemarin pake acara berantem sama si Robert gara-gara si Robert suka ngegodain gue!" Keisha makin sengit. Aku agak tersinggung Keisha berkata demikian.  

"Aaah... Sudahlah! Aku kemarin memang berantem sama si Robert, tapi bukan karena dia suka ngegodain kamu! Aku berantem karena dia ngedorong aku sampai aku hampir jatuh!" kataku sambil berdiri dan keluar menuju ke arah kantin. Di depan pintu kelas, Keisha masih berusaha menahanku.
"Hei... Jangan ngabur lu Frank! Mau ke mana lu? Gue belum selesai ngomong!"
"Aku mau ke kantin, mau ikut? Kita bisa ngobrol di sana. Aku traktir deh!" kataku sambil tersenyum dan memonyongkan bibirku yang seolah-olah menciumnya dari jarak jauh. Aku langsung ngeloyor pergi ke luar kelasku menuju kantin. Keisha tambah mendongkol.
Sempat terdengar makian Keisha ke arahku. Aku hanya tertawa kecil tak menghiraukannya. Aku memang paling tidak suka " berkelahi" dengan perempuan. Apapun alasannya. Lebih baik aku pergi.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com