Start your FREE mobile page!

tagtag.com/ceritaseru

PROLOG  

Los Angeles, Musim Semi 1996  

Kriiiing... kriiing... telefonku berdering. Aku yang tengah bermalasan di sofa menonton CNN Headline News bangkit untuk meraih telefon. Hari ini hari Minggu pagi, sekitar setengah sepuluh.  

"Hello..."
"Hi... May I speak to Frankie Harahap please?" ada suara yang sepertinya kukenal mencari diriku. Aku agak ragu dengan pikiranku sendiri.
"Ya, saya sendiri. Dari siapa ya?" jawabku dengan Bahasa Indonesia karena si penelefon beraksen Indonesia.
"Frank? Frankie??? Lama kita nggak ketemu ya Frank? Masih ingat aku?" kata suara itu lagi dari gagang telefonku. Aku makin bertanya- tanya akan suara yang makin kukenal. Sepertinya...  

"Tunggu dulu... Aku kok sepertinya kenal dengan suaramu ya? Siapa nih?" tanyaku makin penasaran.
"Aku Frank... Kei... Keisha!"
"Haaah... Keisha Saraswati Buntaran?" seruku seperti tak percaya.
"Ingat sekarang?" tanya suara di telefon semakin antusias.
"Waaaah... Ya jelas masih ingat sekali! Bagaimana aku bisa lupa sama kamu? Ada di mana kamu sekarang? Uhmm... Apa kabar niiih?" cerocosku. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak dari dadaku.  

"Aku ada di St. Louis sekarang ini. Aku dapat telefonmu dari si Dido. Dia bilang kamu udah lama tinggal di LA."
Aku tersenyum sendiri, "Ya, sejak tahun sembilan satu kemarin ini aku kemari. Mumpung ada yang bayarin aku nih, jadinya aku terdampar di sini. Gimana ceritanya kamu bisa sampai di St Louis?"
"Sama Frank. Aku juga ada yang bayarin untuk bisa sampai di sini. Ceritanya, aku ikutan semacam pertukaran pelajar. Oh ya, aku dengar dari Dido kalau kamu udah master ya sekarang? Selamat ya Frank!"  

"Terima kasih Kei... Cuma belum komplet kok."
"Belum komplet? Apa maksudmu?" tanya Keisha keheranan.
"Ya, belum komplet. Mei tahun lalu aku tamat MBA-ku, semester sekarang ini aku lagi ngerjain tesisku untuk MS di bidang Teknik Mesin. Mudah-mudahan aja Mei tahun ini aku bisa mempertahankan sidang tesisku."
"Gila Frank... Kamu ngambil double major?"
"Seperti kataku, mumpung ada yang bayari aku sekolah, jadinya aku gunakan untuk sekolah sekuatku belajar. Sekarang udah agak mendingan sejak aku lulus MBA, tahun pertama aku sempat jungkir balik sibuk nggak karuan ngejar kuliahan."  

Keisha bercerita panjang lebar dan kami hari itu ngobrol di telefon hingga tak terasa hampir satu setengah jam. Satu hal yang aku masih bertanya-tanya adalah kenyataan bahwa Keisha telah berubah seratus delapan puluh derajat! Zaman di SMA dulu, Keisha sangatlah membenciku luar biasa. Bahkan untuk bicara pun dia enggan dan segan. Aku jadi teringat pada masa SMA dulu, saat aku jatuh cinta padanya, dengan segala kekonyolanku. Tak terasa, bibirku tersenyum sendiri.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com