Start your FREE mobile page!

tagtag.com/ceritamanis

Kos-kosanku berkamar 8 termasuk kamarku sendiri. Isinya cowok semua dan seperti lazimnya kos-kosan cowok, maka kos-kosanku termasuk berantakan. Rumput tumbuh tinggi, halaman tak pernah disapu dan tentu saja kamar yang seperti kapal pecah. Nah apa hubungannya dengan Vonny, akan kuceritakan berikut ini. Ketika ada kamar kosong satu, ndilalah temenku membawa kenalannya seorang cewek angkatan 98. Namanya Vonny asalnya dari Bandung, orangnya kecil, wajahnya manis dan kulitnya halus serta putih mulus. Si Vonny ini orangnya supel, cepat akrab dengan siapapun, termasuk denganku. Ia ingin kost disitu, tentu saja kita- kita dengan kompak menjawab silahkan. Toh pemilik kost-nya nggak disitu. Eh siapa tahu..... Nah jadilah kos- kosan itu dalam waktu kurang dari seminggu semenjak kedatangan Vonny menjadi bersih dan asri. Nah kejadian yang ingin kuceritakan ini menyangkut aku dan Vonny dan kepindahan besar- besaran seluruh penduduk kost tersebut.
Semakin hari aku mengenal Vonny semakin tumbuh benih- benih (bukan cinta) nafsu. Si Vonny ini meskipun orangnya kecil tetapi karena tingkah lakunya yang kekanak-kanakan justru membuatku on setiap kali kita bercanda. Kadang-kadang bercandanya memang kelewatan. Suatu pagi sekitar 04.30, setelah semalaman aku tak bisa memejamkan mata karena insomnia, aku tiba-tiba saja memikirkan sesuatu yang hangat di sebelah kamarku. Memikirkannya saja membuat kontolku tegak mengacung. Sambil mengelus- elusnya membuatku membayangkan jika saja aku berada dikamar sebelah, mungkin batang ini sudah aku elus- eluskan kelehernya yang mulus atau keselangkangannya yang pasti bersih dan mulus. Atau kuelus-eluskan kedinding-dinding vaginanya yang pasti hangat dan ketat. Lama itu terjadi, aku nggak kuat lagi. Aku keluar kamar dan menengok kiri-kanan tampak sepi, aku berjalan mengendap- endap mendatangi kamar Vonny yang hanya terpisah satu kamar dengan kamarku. Aku intip lewat jendela, tak kelihatan apa-apa karena selain gelap juga ada korden tebal. Aku putar pegangan pintu perlahan....ups. Ternyata tidak dikunci. Perlahan sekali aku putar dan buka pintu kemudian aku masuk dan menutupnya lagi perlahan dan memasang gerendel dan menyalakan lampu tidur yang remang- remang. Remang-remang tampak sesosok tubuh mungil sedang tergolek pulas diranjang. Aku bergerak mendekatinya dan ..ups.. dia menggeliat. Aku diam tak bergerak menunggu dia pulas lagi. Dia mengenakan pakaian tidur yang berbentuk seperti rok panjang terusan. Wah ... memudahkan, pikirku. Perlahan aku mendekatinya lagi dan memandanginya dari jarak yang sangat dekat. Wajahnya tampak lucu dan tenang ketika tidur. Aku memandangi tubuhnya yang mungil, payudaranya masih kecil meski sudah berbentuk. Pinggulnya pun proporsional. Dan.. uuhhh.. vaginanya tampak menggunduk seperti sabun gif terbentuk karena baju tidurnya yang lembut. Aku singkap perlahan- lahan rok tidurnya itu, perlahan sekali agar dia tak terbangun. Aku berhasil membuatnya tersingkap sampai separuh paha atas. Ayo kurang sedikit.... ups ... menggeliat lagi. Aku diam dan posisi akhir geliatannya sungguh membuatku bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki. Kaki kirinya terbuka lebar kesamping dan itu cukup membuat semuanya terbuka. Vonny mengenakan celana dalam kombrang, sehingga dari samping tampak vaginanya. Perlahan sekali aku membuka kaki kanannya sehingga daerah selangkangannya semakin terbuka lebar. Ini membuat celana dalamnya tertarik kesamping dan membuka area vaginanya lebih luas. Jembutnya masih jarang-jarang sehingga kelihatan sekali celahnya yang masih mulus. Itilnya tampak menonjol besar merah mengkilat, begitu pula bibir-bibir labia-nya masih tampak ketat dan halus belum menggelambir. Aku mendekatkan wajahku kebagian itu, dan tercium bau khas. Dengan cermat kuperhatikan bagian itu, sedetil- detilnya.
Ada tahi lalat kecil dibagian luar bibir sebelah kiri, tertutupi samar- samar oleh jembut yang masih lembut. Aku menghela nafas panjang, batang kontolku terasa mengejang. Tiap kudenyutkan rasanya ngilu-ngilu nikmat. Aku menarik wajahku dan melepas celana sehingga aku telanjang bagian bawah sedangkan aku masih mengenakan kaos. Perlahan-lahan aku naik ke atas ranjang, perlahan sekali sehingga posisi Vonny tak berubah. Terus kudekatkan wajahku kebagian selangkangannya. Perlahan sekali kutarik celana dalamnya kesamping sehingga bagian vaginanya menghadap penuh kewajahku. Vonny masih pulas. Dengan telunjuk dan jempol tangan kananku, kubuka perlahan belahan vaginanya, sehingga bibir-bibir labianya tampak jelas. Tak tahan, aku mendekatkan mulutku ke itilnya, dan menyentuhkan lidahku perlahan kepermukaannya. Vonny mengejang perlahan, terasa oleh tangan kananku gerakan perlahan di bagian pinggir belahan vaginanya. Aku menggerakkan perlahan lidahku menyapu permukaan itilnya dengan gerakan berputar- putar searah jarum jam. Gerakan mengejangnya semakin terasa tidak hanya oleh tangan kananku, tetapi juga oleh gerakan kaki kirinya yang terangkat perlahan. Aku berharap semoga ia sedang bermimpi erotis sehingga tidak terbangun segera. Aku mulai mencium bau yang kuat keluar dari lubang vaginanya. Wah. ini mulai berair.pikirku. Aku memutar-mutar lidahku semakin cepat dengan arah yang berubah-ubah. Gerakan kaki kanannya menutup tetapi terhalang oleh kepalaku. Terasa hangat permukaan dalam pahanya dipipiku. Dan hebatnya, ia belum terbangun. Aku mengais-ais bulatan itilnya dengan ujung lidah dengan mantap. Ia mengeluarkan suara melenguh. Aku berhenti sejenak, tapi ia hanya merubah posisi tangannya tanpa terbangun sedikitpun. Aku kembali mendekatkan wajahku tapi kali ini kebagian bibir-bibir labianya. Meski Vonny ini kecil, tapi bibir- bibir vaginanya agak besar sehingga menonjol keluar. Kembali tercium bau khas. Aku mengemut bibir labia mayora kirinya dan menyedotnya perlahan dan memainkan permukaannya dengan lidah. Kali reaksi Vonny nggak lagi mengejang perlahan tetapi menutup kedua pahanya sehingga kepalaku terjepit diantaranya dan terasa hangat sekali permukaannya dipipiku. Kali ini aku membukanya tanpa perlahan-lahan lagi, maklum lagi nafsu banget. Dari kepala kontolku keluar cairan bening, batang mengeras dan menampakkan urat- urat besarnya. Anehnya Vonny tidak terbangun, dan membiarkan kedua tanganku membuka kedua pahanya. Tangan kananku menarik celdalnya kesamping sedangkan tangan kiriku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mengolah bibir-bibir vaginanya. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik sedangkan tangan kiriku sekarang mengelus- elus itilnya dengan cairan pelumas dari lubangnya. Asyik sekali.. saking keasyikannya.. tiba-tiba. Ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir..ini..hanya reaksi spontan dari mimpi erotisnya...eh kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari ada suara- suara nafas tertahan dan jambakan dirambutku bukan lagi jambakan pasif tetapi mulai mengelus-elus dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba tersadar... Dia telah bangun. Aku termangu duduk diantara selangkangannya dan melihat kearah wajahnya dikeremangan. "Kok..., berhenti mas..hh!", suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu. "Ehh.. anuu.. iii.. ni... apa... eehh... anu!", aku gelagapan. "Ehh... terusin mas... hhh... kurang dikit lagi..!", suaranya tertahan. Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kontolku tak berkompromi. Dia tegak mengacung sehingga mencuat diantara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya kontolku nggak terlalu besar tapi panjang, sehingga tampak mencuat lucu. Tiba-tiba Vonny bangun, dan duduk dihadapanku memandang aku dengan sayu. Aku semakin culun dan tanpa kusadari tangannya menggenggam batang kontolku mantap. Tiba.tiba.. auh.. ia menunduk dan memasukkan kepala kontolku yang mengeras seperti helm kopassus kemulutnya. Dan ketika sadar aku langsung merasa melayang merasakan kenyotan kenyal diseluruh permukaan batangku. Setelah berapa lama aku merasakan sesuatu akan mengalir keluar dari dalam batangku. Ia memencet bagian pangkalnya sehingga aliran itu tidak jadi keluar dan tertahan sehingga menahan rasa nikmat disekujur selangkanganku. Wah ahli banget Vonny padahal aku nggak ngasih tahu kalau akan keluar. Nggak nyangka deh!. Ia memegang batang kontolku lama sambil tersengal-sengal. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya terlentang di ranjang. Ia menarik lepas celana dalamnya dan menarik rok tidurnya sehingga vaginanya terpampang jelas, kemudian membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat. Ia mengelus perlahan permukaan vaginanya sambil memandangku dan berkata, " ayo.mas..masukin.&qu ot; Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut diantara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin kena ludahnya dan mengarahkannya kelubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habis- habisan olehnya ialah bahwa ia sudah tak perawan lagi. Dan... Sssleeeppp... ketat tapi tak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku!). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjang itu masuk total kedalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya.
Vonny melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dari jendela mulai terlihat cahaya fajar. Tapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku cuek saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya. Entah karena apa, aku tak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku Vonny sama sekali tak berusaha menahan suaranya. Ia mulai melenguh dan mengerang keras- keras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tak perduli lagi. Lagian suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan gerakan yang cepat dan keras. "Aaahhh... aayooo... mass... aaduhhh... cepat.. masss..!", ia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepak ..cckkk... cckkk... dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai dipuncak. Tiba-tiba Vonny menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa disekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya diantara leherku dan bertumpu pada kedua tangan sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuk-nusuknya cepat. "Aaa... hhh... ssss..", terdengar bunyi- bunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu. Sedang aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat. Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras. Dan.. "Vonn.. vonny.... aaadddduuuhhh... ssss.. Von.!", spermaku menyemprot deras ke dalam lubangnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kontolku dengan dinding- dinding lubang vaginanya. Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir, dan tak berapa lama kemudian. "Masss... aaaaaa... maassss... ssshhhhh... aaddduuhh...!", Vonny menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan- tusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat diubun-ubunku. Batangku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tak kunjung reda. Tiba..tiba... "Rud.., kamu di dalam situ?", suara Andi (teman kostku) memanggilku dari luar pintu kamar Vonny.
Ini adalah bagian kedua dari empat bagian dari cerita Vonny. Antara sadar dan tidak, dengan batang kontolku yang masih tercengkeram didalam lubang vaginanya, Vonny berkata perlahan:" Ada apa mas Andi?" "Eh enggak, Rudi ada didalam situ nggak?" "Emang kamar mas Rudi disini?" " Eh sorry.sorry.!" dan Andi pun berlalu. Beberapa saat kami terdiam. Aku pun tak berusaha mencabut batang kontolku yang entah karena apa terus terasa tegang (nggak tegang-tegang amat tapi juga nggak mengecil sehingga tetap terjepit di dalam lubang vagina Vonny). Aku mengelus keningnya lembut, terasa ada keringat membasahi. Vonny bergerak perlahan merubah posisi kakinya sehingga membuatku tergigil karena gerakan itu terasa seperti kuluman terhadap batang kontolku. "Eh.Vonn.aku mau nanya terus terang kepadamu, aku udah nggak perawan sejak kapan? Sorry kalo nyinggung . soalnya aku nggak nyangka." Aku bertanya perlahan nyaris berbisik kedekat telinganya. Ia menghadap kearahku sehingga tercium bau mulutnya yang khas dan berkata perlahan, "Nggak apa-apa kok mas, aku udah bolong sejak dari kelas 1 SMP. Mulanya sih nyoba- nyoba sama pacar pertamaku, eh nggak taunya dia udah pengalaman banget. Pas diraba-raba sih nggak terlalu terasa, waktu dijilatin itu yang aku nggak kuat. Tembus deh!. Aku juga nggak nyesel kok, enak sih!" " Kamu begini udah berapa kali?" Mumpung lagi jujur, aku terusin nanya. "Wah nggak keitung deh! Lagian pas SMA aku pernah ke dokter nanyain kalo-kalo aku hamil, eh nggak taunya dikasih tau kalo aku mandul, nggak bakalan bisa punya anak, ya udah semakin menjadi- jadi!" " Sama siapa aja?" "Selain sama pacar kalo punya, ya sama siapa aja asal aku lagi pengin dan dianya mau, seperti sama mas sekarang ini!" Sambil berbisik-bisik saling bertanya, aku memperhatikan buah dadanya yang mungil dan belum turun, pentilnya tampak menonjol. Aku jadi terangsang lagi, batangku yang masih menghangati lubang vaginanya tiba-tiba perlahan- lahan mengeras lagi. Aku takjub bukan main, biasanya kalo habis ngocok ya setidaknya butuh 2 hari untuk gampang tegang kembali. Aku jadi merasa tidak nyaman karena posisi masuknya batangku itu membentuk sudut yang kecil sehingga ketekuk. Tadi pas agak lemas bisa melengkung enak, sekarang.Auuuhh .. pokoknya nggak enak rasanya.
"Mas Rudi mau lagi?" Aku nggak bisa menjawab lha wong lagi konsentrasi kebatang kontolku yang terjepit itu. "Mas pernah ngerasain anorexia orgasm nggak?", "Nggak, apa itu?" " Jadi kalo kita mau orgasme, jika udara nggak masuk ke otak beberapa saat itu akan membuat orgasme- nya beberapa kali lebih nikmat" Wah..teori apa pula ini. Gila bener nih anak, kecil-kecil udah canggih. "Kalo mas Rudi mau bisa tak ajari sebentar," "Lha kalo nanti mati" "Ya paling-paling masuk neraka" Gila, ini udah nggak bener. Tiba-tiba ia bergerak sehingga batangku tercabut dari lubangnya. Vonny berdiri dan berjalan kearah rak bukunya dan mengambil selotip kertas yang lebar. Kemudian ia menelentangkan aku dan memasangkan selotip ke hidung dengan rapat dan ke mulut dan membuka sedikit ujungnya sehingga tidak tertutup semua sehingga aku masih bisa bernafas. "Mas Rudi nikmati saja dan jangan berontak, tak janjiin terbang deh nanti." Vonny memegang batangku dan mengocoknya perlahan. Mula-mula mengelusnya halus sehingga perlahan- lahan batangku itu berdiri. Kepalanya masih tampak mengkilat dan memerah karena cairan vagina Vonny yang kental. Aku mulai merasakan rasa nyaman yang mengalir perlahan dari selangkangan kekaki, paha dan pinggang. Ia mulai mengulum batangku itu dan aku merasakan permukaan lidahnya yang kasar tapi lembut mengelus permukaan batang kontolku. Aku mulai tersengal- sengal karena pasokan udara yang sedikit masuk keparu- paruku. Nafasku mulai lebih cepat dan detak jantungku berdebar keras. Sensasinya sungguh aneh karena yang terasa nikmat bukan saja batang kontolku tetapi seperti menjalar keseluruh tubuh sehingga gerakan kecil saja dari kakiku terasa enak. Vonny menghentikan kocokannya dan berjongkok diatas tubuhku. Tangan kirinya memegang batangku dan menggosok- gosokkan kepalanya kearea vaginanya. Aku sudah tersengal- sengal berat tapi Vonny melarangku menarik selotip itu dari mulut dan hidungku. Vonny menggerakkan pinggulnya kebawah sehingga batang kontolku untuk yang kedua kalinya memasuki lubangnya. Kali terasa agak lain, agak terasa menjepit dibandingkan tadi. Ia memasukkan seluruh panjangnya sehingga terbenam habis ditelan vaginanya. Aku menghela nafas panjang dan berusaha menghirup nafas sebanyak-banyaknya dari lubang kecil disudut mulutku yang tertutup selotip. Vonny berhenti sejenak dan meletakkan kedua tangannya kedadaku. "Rasain aja ya mas, kalo mau teriak teriak aja nggak pa pa, nanti rasanya akan semakin nikmat!" Vonny berkata pelan. Setelah tumpuannya sempurna, Vonny mulai bergerak perlahan lahan sehingga batangku sekali lagi tergesek- gesek permukaan licin lubang vaginanya. Mula-mula ia bergerak perlahan, lama kelamaan, ia mulai bergerak cepat dan teratur dan nafasnya mulai terdengar keras diselingi jeritan- jeritan kecil. Aku merasakan rasa nikmat yang dengan cepat menjalar keseluruh tubuh dan kembali lagi mengumpul kebatang kontolku yang sedang dikocok dengan cepat. Sekitar 10 menit Vonny bergerak dengan cepat, dan aku merasakan rasa nikmat yang mulai akan meledak. Tiba-tiba Vonny berhenti dan dia merapatkan sisa lubang selotip dimulutku sehingga dengan segera aku kehabisan nafas, dan dia mulai bergerak lagi tidak dengan perlahan-lahan tapi langsung cepat. Aku merasakan sesuatu seperti bergerak keluar dari dalam otak dan menggelitik rasa nikmat yang sedang mengumpul. Kurang dari satu menit Vonny melakukan itu dan aku mulai merasakan gelap yang nikmat, tiba-tiba dia berdiri sehingga batangku tercabut dan dengan sigap mengocok batang kontolku dengan kedua tangannya. Tangan kanannya memencet keras bagian pangkalnya sedangkan tangan kirinya mengocok bagian batangnya dengan cepat. Aku merasa tegang yang nikmat, dan merasakan aliran rasa nikmat seperti konvoi berbondong- bondong menuju batang dan kepala kontolku yang sedang dikocoknya dengan cepat, dan aku merasakan orgasme sudah dekat tapi seperti ada sesuatu yang menghentikannya tepat dipintu keluarnya sehingga gerombolan nikmat itu menyebar dan mendesak-desak keseluruh bagian di area sekitar selangkanganku. Aku sudah tidak sanggup berpikir, tanganku lemas tapi badanku tegang bergetar-getar didesak-desak oleh rasa nikmat yang semakin tinggi tapi tidak kunjung mencapai puncak... semakin tinggi... semakin tinggi... Aku merasa melayang keluar dari tubuhku. Batangku yang sedang dikocok oleh Vonny tidak terasa apa-apa, tetapi seluruh tubuhku dimulai dari pangkal batang kontolku terasa seperti dikerok- kerok oleh sesuatu yang enak sekali. Tiba-tiba segala sesuatunya seperti berhenti, ketika mendadak Vonny melepaskan pencetannya kebatang kontolku. Rasa nikmat yang terkurung tadi seperti mengaduk- aduk tubuhku tapi tidak terasa seperti keluar dari batang kontolku. Vonny mengusap-usap bagian dalam pahaku yang basah kuyup oleh keringat sehingga rasanya seperti adukan nikmat yang luar biasa. Tanganku tak sanggup bergerak lagi. Aku merasa kaku dan sangat nikmat serta lemas tak sanggup berbuat apa pun. Keadaan ini berlangsung terasa lama sekali dalam rasa gelap dan nikmat yang kurasakan. Vonny membuka selotip dimulut dan hidungku dengan gerakan cepat, sehingga udara segera mengalir dan mengembalikan kesadaranku perlahan- lahan. Aku terbangun pada sore harinya dalam keadaan yang sangat lemas dan Vonny telah pergi.
TAMAT
-----


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com