TagTag pledge: Help us build secure and private social network

tagtag.com/17tahun

Jam di dinding 11:55 wib
" Kalau sakit atau rasanya lain kamu bilang ya."
sembari gue terus ngegenjot ngegoyangin pinggul gue maju mundur.
Demi ngangguk saja.
Cairan dari memek Demi membuat suara cplok..cplok..cplok. .. Demi
menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, mungkin dia lagi
ngimbangi gerakan yang gue lakukan. Rasanya tak kuasa gue nahan kenikmatan
itu, sampe urat leher gue negang nehan ekspresi. Karena suara desahan Demi
yang gaduh dan seperti menjerit, mulut Demi gue terpaksa sumpal dengan kaos
hitamnya. Arghhh.. hhmm ihhhsss.... semakin demi menjerit semakin gue
percepat goyang pinggul gue. Demi pada posisi seperti ini gak bisa banyak
melakukan ekspersi apa- apa, karena dalam posisi yang terikat tangan dan
kaki ke tiang ini tentu saja akan sangat menyiksa dia. Tapi biar saja, toh
posisi ini juga yang dah gue dan Demi sepakati. Katanya, sensasinya sungguh
luar biasa. Posisi kaki Demi ngangkang dan terikat masing- masing ke tiang
yang kebetulan jarak tiang satu ke yang satunya lagi kira-kira 70 cm atau
80 cm itu. Tangannya pun gue ikat ke masing- masing tiang dengan posisi
tangan terangkat keatas. Dengan posisi ini buah dada Demi yang berukuran
34B semakin membusung menantang. Kaki yang terbuka mengangkang membuat
rambut dan gundukan daging selangkangannya makin menantang. AAhhh... liur
gue makin ngalir membuat gue terus menelan ludah dan debar jantung gue
makin memburu. Walau gue dah biasa menelanjangi perempuan dengan body yang
sexy seperti ini, tetap saja gue megap- megap.  

Demi terus mendesah, mulutnya menganga nehan kenikmatan. Sementara
rontahannya gak berkutik karena ikatan pada tangan dan kakinya. Kadang
kakinya menjinjit, kadang juga lututnya dia tekuk. Tapi tetap saja gue gak
perduli dengan apapun yang dia ekspresikan. Kenikmatan ini harus terus
berlangsung, benakku. Napas gue terasa sesak, tapi gue tetap gak perduli,
gue terus menggenjot kedepan dan kebelakang. Tangan gue gantian meremas
buah dada yang ikut menegang itu. Keringat mulai mengucur dan membuat basah
tubuh gue dan juga tubuh Demi.  

******** ******** ********
Tentunya masih ingat dengan Demi kan ?
Demi adalah salah satu teman Rina dan Lia. Masih ingat dengan meraka kan ?
Masih ingat dengan Rina, Lia, Lucy, Diah, dan Anny ? Nah Demi adalah orang
yang keenam itu. Masih ingat cerita gue yang diikat ntuk kemudian gilir
satu persatu. Masih ingat dengan pembalasan yang gue rencanakan. Ini salah
satu korbannya, korban pertama.
******** ******** *********  

" Demi, sekarang gue mo tutup mata kamu. Gimana ? " tanya gue. Tapi belum
lagi Demi ngejawab gue, tangan gue dah melingkarkan kain hitam yang emang
dah gue siapkan. Demi gak jawab apa- apa, dia hanya terus mendesah dengan
mulut yang menganga. Pasrah.
" Gue juga mo kamu ngisap bau parfum ini." setelah selesai nututup matanya
dengan kain hitam itu, sekarang gue ngikat sapu tangan gue yang tentu saja
gue dah lumuri dengan parfum yang dan gue campur dengan obat terlarang
(sorry, gak disebut namanya) pada dosis yang secukupnya, yang sekiranya
hanya akan membuat Demi ngerasa melayang. " Oke Demi sayang. Kita mulai
lagi permainan ini. Gue akan memberikan kamu kepuasan."
" Tapi sebelumnya gue mo bersihin memek kamu dulu dengan ini. " gue ngambil
tisu. Setelah gue rasa memek Demi dah bersih, kemudian gue ngambil botol
kecil berisi wisky. Botol ini gue bawa dari rumah. Segala permainan dan
perlengkapannya gue dah persiapkan dengan matang setalah gue janjian dengan
Demi. Tapi permaian apa dan gue mo ngasi apa aja gue mang gak ngasi tau ke
Demi. Kejutan gue bilang waktu janjian di telpon sebelumnya.  

Pinggul Demi gue tarik kemudian wisky gue tuang ke memeknya. Demi kaget,
mungkin terasa nyengat, terasa dingin mungkin. Bau wisky nebar, oleh Demi
nebak mau alkohol. Memang ini alkohol, Demi sayang, jawabku nimpali.
Gue jongkok, posisi gue gak akan sulit untuk menjilat vagina Demi. Karena
memek Demi yang dah emang basah ditambah lagi karena siraman Wisky itu, gue
terus jilat clitorisnya. Gue rangkul paha Demi. Wajah gue tenggelamkan,
mulut gue nempel ke mulut vaginanya. Lidah gue julurkan
sepanjang-pajangnya. Rasanya lidah gue tenggelam kira-kira 5 cm ke dalam
lubang vagina Demi. Demi gak bisa merontakan pinggulnya karena gue bekap
dengan keras. Dia hanya menggeleng-gelengkan palanya dan menggigit
bibirnya. Tapi desahannya tetap saja gaduh. Ini nganggung gue.
" Mim gue ikat mulut kamu aja ya ? Oke, biar teriakan elo gak kedengaran. "
gue meraih baju kaos gue yang tergeletak di latai. Gue ikat ke mulut
melingkat ke belakang. Demi menganga dan menggigit kaos itu.  

Dengan mata tertutup, hidung yang dah gue bius dengan dosis rendah, dan
mulut yang tersumbal, serta tangan dan kaki yang terikat, gue kemudian
memulai lagi ngisap puting buah dada Demi yang kecil coklat kemerahan itu.
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri gue masukin ke vagina Demi.
Terasa basah dan hangat. Tangan kiri gue goyang pelan keluar dan masuk ke
vaginanya, Demi ngejerit. Entah dia sakit atau enak gue gak peduli.
Sementara tangan kanan gue gunakan ntuk ngeremas buah dada kiri Demi. Tubuh
Demi ngeguncang keras, tatapi tetap sana gak bisa gerak banyak karena
tangan dan kakinya yang terikat. Sesekali gue perhatikan ke wajahnya,
sepertinya dia ngekspresikan kenikmatan atau bahkan rasa sakit dengan
gigitan ke kaos yang gue pake nyumbal mulutnya.  

Karena gue gak tahan, gue akhirnya ngambil botol kecil lain di kantong gue.
Botol yang berisi beberapa macam ramuan minyak, dengan maksud batangan gue
terasa tebal dan bisa tahan lama.
Kembali batangan gue masukkan ke vagina Demi. Sambil berbisik pelan ke
telinga Demi; Gue mo masukin kontol gue ke memek kamu, pasti enak dan
sensasi yang elo cari akan tercapai disini.
Demi ngangguk, tanda dia setuju saja.
Pinggang Demi gue renggut, kemudian dengan goyang pelan. Memek Demi yang
basah dan lumuran minyak ke batangan gue gak membuat susah gue memasukkan
batangan gue ke vagina Demi. Setelah goyang yang beberapa saat setelah itu,
terasa batangan gue hangat, hangat sekali. Gue gak peduli walau Demi
meronta dengan keras, tapi karena pinggulnya yang gue cengkram keras,
rontahannya gak berarti banyak. Gue terus menggoyang. Batangan gue terus
keluar masuk. Hangat itu gak begitu lama, hanya kira-kira 10 detik, setelah
itu yang terasa di batangan gue hanya rasa yang lain. Batangan gue terasa
tebal.
Gue perhatikan urat leher Demi menegang, wajahnya yang gak tertutup
memerah, napasnya memburu. Gue kaget. Tapi setelah gue tanya Demi apa dia
ngerasa sakit. Dia hanya menggeleng. dan ngangguk lagi setelah gue tanya
apa dilanjut lagi.  

Tapi selang beberapa saat, HP gue berdering. Gue ingat dengan teman- teman
gue, Rudy dan Frans.
" Demi, sebentar, gue mo jawab dulu." gue ninggalin Demi dalam kenikmatan
yang ngegantung karena sesaat sebelum HP berdering, rasanya dia dah mo
orgasme.
Setalah ngejawab singkat telpon itu, gue buka pintu perlahan. Jangan sampe
Demi tau kalau gue sedang membuka pintu. Rudy dan Frans yang memang dah
dari tadi nunggu di luar masuk pelan- pelan. Gue ngasi tanda ke meraka agak
gak sampe gaduh. Demi gak bole tau kao gue manggil teman. Tapi gue kira
cuman Rudy dan Frans doang, ternyata ada lagi teman yang lain. Dia Dina.
Dina ini adalah seorang lesbi. Diantara kami (gue Rudy, Frans dan Dina
emang temanan, dan dah tau kalo Dina adalah lesbi) dah saling tau rhs
tentang sex masing- masing. Rencana pembalasan gue ini, emang melibatkan
mereka, Rudy dan Frans. Tapi gue gak tau napa Dina ikut. Itu nanti saja
cari taunya.  

" Mi, sorry. Kelamaan, gue sekalian pipis dulu. Lanjut ya ?" Demi ngangguk
saja.
Sambil mengasi tanda ke teman- teman gue, gue mulai lagi masukin batangan
gue ke memek Demi. Batangan gue yang tentu saja terus negang dengan lancar
kembali nembus lobang vagina Demi. Cplok..clpok...bhsss bhsss.. Hm... Hm...
gue ngedesah pelan. Pinggul Demi gue cengkram keras. Nggak lama setelah itu
batangan gue tarik. Demi bengong. Gue ngasih tanda ke Rudy agar siap-siap.
Rudy dan Frans dan telajang. Rudy yang tinggi dan berkulit putih dengan
kontol berukuran 17/4.5 cm sedang Frans yang kebetulan orang timur, dari
Maluku, dengan badan gempal dan kontol dengan ukuran 13/6 cm. Wow,
kombinasi lumayan yang satu panjang dan satunya lagi bulat. :P
Sapu tangan gue dekatkan lagi ke hidung Demi. Tapi kali ini lebih lama.
Demi keliatan makin ON setelah ngisap bau sapu tangan gue itu. Mungkin dia
sedang berada di ambang alam sadar dan bawah sadar dia. Kepala Demi oleng,
tapi masih sanggup berdiri bersandar di dinding kayu yang ada di
belakangnya.  

Rudy gak nunggu lama, batangan dia yang dah menjulur tegang itu, di
masukkan ke vagina Demi. Gue yakin Demi gak sadar betul, dalam keadaan ON
seperti ini, Demi hanya diam nunggu. Dari sudut ruangan sebelah kanan,
setalah gue kenakan pakian lagi, gue duduk di dekat Dina yang dengan wajah
terheran-heran nyaksikan adegan gila sepertli itu.
" Nanti aja gue jelasin ke kamu. Sekarang kamu diam aja. Atau kalo mau
ikutan ambil posisi dong disana. " bisik gue pelan Dina.  

Gue gak ngitung berapa kali Demi digilir oleh teman- teman gue, Rudy dan
Frans. Gue gak mo tau. Tapi yang jelas bagi gue adalah, salah satu dari
enam perempuan itu dah gue dapat.  

Hingga sampe jam 17:15 wib, setelah Demi dah terkulai. Gue suruh Rudy,
Frans dan Dina pergi, gue buka kembali ikatan tangan dan kaki serta penutup
mata dan sumpal mulut Demi. Demi hanya ngerang. Berdesah, seluruh tenaganya
dah terkuras. Gue papah ke ranjang dan Demi tertidur hingga jam 20:30 wib
kira-kira.
Hingga setalah bangun, Demi hanya ngerasa lapar dan minta makan. Sepertinya
dia gak ingat apa- apa. Dia hanya terus muji. Andi, kamu hebat. Kamu hebat.
Kalimat itu terus terucap. Hingga gue antar Demi sampe di rumahnya di
bilangan Daan Mogot sana.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com