TagTag pledge: Help us build secure and private social network

tagtag.com/17tahun

Aku seorang mekanik dari salah satu perusahaan penerbangan swasta
yang home base nya di Pondok Cabe dan aku baru pindah dari
Surabaya, bosan di Surabaya. Umurku saat ini 41 tahun dengan anak 3 orang
dan mereka masih tinggal di Surabaya. Aku baru dapat menjenguk mereka
paling cepat 1 minggu dan paling lama 3 minggu. Untuk mengatasi "sex
problem", aku sering melakukan olahraga berat : latihan tae kwondo 3 x
seminggu di malam hari, bulu tangkis dlsb, sehingga diusiaku 41 tahun aku
selalu merasa segar.
Di Jakarta aku indekost pada sebuah keluarga yang kelihatannya cukup
bahagia di daerah Lebak Bulus, urusan makan dan cuci mencuci pakaian tidak
masalah karena ada pembantu di rumah keluarga yang pulang setiap hari. Ibu
kost (ibu mayang) berumur lebih kurang 27 tahun, postur tinggi (162 cm),
payudara tidak begitu besar (34), namun pantatnya aduhai serta betisnya
sangat baik menurutku. Yang paling sensual adalah kombinasi antara
hidungnya dengan mulutnya yang selalu sedikit terbuka, bibirnya sepertinya
selalu memakai pelembab tetapi ternyata tidak , selalu basah, giginya
terawat rapi dan bersih, pasti aroma mulut ibu kost itu harum dan
merangsang. Tetapi aku hanya dapat membatin, karena aku sudah tobat saat
ini (dulu termasuk gila , tiada hari tanpa "fucking day"). Namun mata ibu
kost kelihatan selalu sayu dan sendu, sepertinya menahan rasa yang
terpendam, aku tak tahu rasa apa itu. Bapak kost (Pak Sudiro) ,
berperawakan sedang, berumur lebih kurang 53 tahun dan selalu sibuk dengan
pekerjaannya yang tak pernah selesai, beliau mengurusi perusahaan
konstruksi , sehingga tak jarang pulang malam dan kadangkala menginap
sampai 4-5 malam di luar kota. Aku serba rikuh dan sungkan. Namu sukur ,
selama ini, setelah aku tinggal selama 4 bulan belum pernah terjadi hal hal
yang mengarah perselingkuhan antara aku dengan ibu mayang. Ibu Mayang
selalu sopan santun, walau sering kulihat mata ibu Mayang melirik ke arah
pangkal pahaku. Apabila di rumah, aku selalu memakai celana pendek hawai
lentur dan tak pernah memakai celana dalam, supaya gampang kencing kalau
mendadak pingin kencing.
Bila aku pulang agak cepat, kami bertiga sering makan malam bersama , anak
anak Pak Sudiro sudah makan duluan. Perlu saya beritahukan bahwa anak anak
Pak Sudiro ada 2 orang dan berumur 8- 10 tahun adalah anak bawaannya dari
istrinya yang pertama , telah meninggal duluan
Pak Sudiro sepertinya telah kehilangan semua gairah duniawinya setelah
ditinggal istrinya yang pertama, dia kawin dengan Ibu Mayang adalah atas
anjuran keluarga mantan istrinya dan masih ada hubungan famili jauh. Pak
Sudiro sering minta aku menemani istrinya menonton TV , karena Pak Sudiro
selalu tenggelam dengan pekerjaannya terus. Namu aku selalu menolak anjuran
Pak Sudiro, aku takut gilaku kambuh lagi.
Sampai pada suatu malam......
Aku pulang sekitar pukul 21.15, kulihat lampu pada kamar tamu gelap. Pintu
utama kubuka karena aku dibekali dengan kunci sérep sehingga dapat kubuka
setiap waktu. Biasanya kalau sampai pukul 20.30 aku belum pulang berarti
aku menginap di rumah temanku, atau ke luar kota dan biasanya aku tidak
pernah memberitahu Bapak/Ibu kost. Pada malam itu, aku diperkirakan mereka
tidak pulang. Ketika kulewati pintu kamar mereka kudengar suara Ibu Mayang
:" Pak, bapak tahu sudah berapa lama aku tidak bapak entoti, memekku gatal
pak, sudah 3 minggu pak, kalau bapak memang sudah tidak mau entoti aku,
nanti kucari orang lain , bapak baru tahu rasa, apakah itu yang bapak
inginkan ?. Banyak saja alasan bapak, yang sakit pingganglah, yang tidak
mau teganglah , yang tidak gairahlah, macam macam ". Pak Sudiro menjawab
kalem :" Benar lo bu, aku memang sering sakit pinggang, peniskupun sudah
agak sulit tegang, kalau tegangpun, sebentar lalu lembek lagi. Kalau ibu
pingin cicip penis orang lain, bapak sih tidak keberatan, namun tolong
jangan di depan bapak, juga kalau bisa jangan dengan pria yang penisnya
besar, nanti longgar dong memek ibu". Ibu menimpali :" Maaf pak, bukan
maksud ibu begitu, ini ibu ucapkan karena ibu emosi saja. " Baiiklah bu,
malam ini kita coba saja apakah bapak bisa entoti ibu atau nggak, kalau
nggak bisa, ya besok ibu bisa ngobrol ngobrol dengan Pak Alam (aku sendiri)
, atau dengan teman ibu yang lain atau mantan pacar ibu. "Nggak ah pak, aku
hanya bercanda". "Benar lo bu, satu hal lagi kalaupun ibu dientoti oleh
penis orang lain, bapak ok, tapi ibu jangan jatuh hati ".  

Pak Sudiro mulai meraba betis Ibu Mayang , perlahan saja menyelusuri
dengkul kemudian naik terus ke pangkal paha ibu Mayang. Ibu Mayang
mengerang kegelian, maklum sudah 3 minggu tidak dientoti penis.. Posisi
mereka 69, namun Pak Sudiro tidak menjilati memek ibu Mayang, nggak tahu
kenapa, apakah jijik atau kuno. Nggak jelas. Ibu Mayang ternyata tidak
memakai celana dalam hanya dasternya saja yang menutupi memeknya rupanya.
Posisi memek ibu Mayang persis menghadap ke jendela yang terbuka dan
kelihatan olehku jelas benar , lebih kurang berjarak 1 meter dari jendela
yang terbuka sedikit. Kulihat jemari Pak Sudiro mulai merambat ke pangkal
paha Ibu Mayang namun sama sekali tidak menyentuh memek ibu mayang, apalagi
lobang memeknya. Yang kulihat cairan bening perlahan mengalir dari lobang
memek ibu Mayang. Ujung jari Pak Sudiro hanya berputar putar mengelilingi
lobang memek ibu mayang yang semakin banjir. Kulihat ibu mayang mengangkat
pantatnya agar lobang memeknya menyentuh jemari Pak Sudiro, namun Pak
Sudiro kelihatannya sengaja untuk tidak menyentuh lobang memek ibu mayang,
apalagi memilin milin itil ibu mayang, nganggur itilya ibu mayang. Sirar
terang mengakibatkan cairan ibu mayang berkilat dan kulihat jelas lobang
memek ibu mayang yang dikelilingi jembut yang lebat keriting " muntup muntup
", lobangnya kembang kempis minta di isi dengan sesuatu. "Pak, jangan
begitu pak , aku sudah nngggak tahan lagiii bapak permainkann begitu,
langsung aja pak, ayo pak, masukkan penismu pak" , erang ibu mayang. Aku
yang melihatnya saja sudah ngga karu karuan rasanya , apalagi ibu mayang.
Tiba tiba Pak Sudiro merapatkan kelima jemarinya dan mencoba menyentuh
permukan lobang memek ibu mayang, menyentuh sebentar lalu ditarik. Ibu
mayang tambah gila, kepala ibu mayang digelengkannya kekiri kekanan ,
pinggangnya diangkatnya namun selalu saja jemari Pak Sudiro menghindar.
Tiba tiba pada saat ibu mayang tidak siap, kelima ujung jari Pak Sudiro
langsung menyentuh lobang memek ibu mayang kemudian diputar putar Pak
Sudiro dipermukaan lobang memek ibu mayang. Namun karena lima jari sangat
besar tidak mungkin masuk, hanya lebih kurang 1 cm yang masuk ke lobang
memek ibu mayang. " Ayo pak, masukkan semua jarimu pak, aku sudah tak tahan
minta dimasukin , pak, ayooo pakkkk cepat masuk pakkkkk." Jerit ibu mayang.
Kemudian Pak Sudiro memutar tubuhnya dan menanggalkan kain sarung yang
sedari tadi masih dipakainya. Langsung dikeluarkannya penisnya, ternyata
penis Pak Sudiro kecil saja dan tidak begitu tegang. Ibu Mayang
mengangkangkan pahanya selebar lebarnya agar penis Pak Sudiro bisa masuk.
Pak Sudiro mengarahkan kepala penisnya kelobang memek ibu mayang dan
berusaha memasukkanya ke memek ibu mayang. Namun tidak berhasil juga, malah
kulihat penis Pak Sudiro membengkok, dan terpletak pletok, tidak bisa
menembus lobang memek ibu mayang, walaupun lobang memek ibu mayang sudah
tertutup cairan lendir yang semakin banyak mengalir di sela sela pahanya.
Akhirnya :"Bu maafkan aku bu aku sudah mau keluar...aghhh.ohhh ibu
mayang..maffkan aku..besok ibu cari saja penis lain yang perkasa aku tidak
akan apa apa .....buk". Pak Sudiro telah orgasmus tanpa sempat menembus
lobang memek ibu mayang. Pak Sudiro kemudian lengser ke sebelah ibu mayang
dengan sedih karena tak berhasil memuaskan ibu mayang. Ibu mayang hanya
senyum sedih tanpa berkata apa apa lagi dan pamit kepada Pak Sudiro untuk
mencuci memeknya yang tertimpa sperma Pak Sudiro.
Aku langsung cabut dari jendela kamar pak Sudiro dan kabur ke belakang di
tempat yang agak gelap. Kamar mandi di rumah itu ada 2 buah , 1 buah di
dalam rumah namun sedang direnovasi sehingga tidak dapat digunakan,
sedangkan yang satunya berada di luar rumah. Ibu mayang segera mebuka pintu
keluar menuju kamar mandi . Sebelum ibu mayang sampai ke kamar mandi ,
dengan gerakan lincah kusergap ibu mayang dari belakang sambil kututup
mulut ibu mayang dengan sebelah tangan sedang tangan yang satunya meremas
payudara ibu mayang yang tidak terlalu besar namun masih padat.
" Ougghh...siiiaaapppa a ini, jangggan...teruuusss skkaaaaan saja. Karena
gelap ibu mayang tidak dapat melihat wajahku , juga karena aku mendekapnya
dari belakang. Segera tanganku meraba lobang memek ibu mayang dan kukorek
korek lobang memek ibu mayang dengan ganasnya dan ibu mayang berteriak
erang : Siiaapaaaapun ini nggak apaa apaaa , teruskan korek memekkkku
mas....yang cepat massss". Aku membuat kesalahan , segera kubalikkan
tubuhku dan kucium bibir ibu mayang. Ibu mayang terkejut langsung melompat
ke belakang dan menamparku. "Pak...pak Alam rupanya, kenapa bapak lakukan
ini pak, bapak kelihatannya sangat sopan selama ini...tetapi ternyataa
bejat". "Maaf bu... saya sudah sangat terangsang...melihat ibu di kamar
tadi ...sekali lagi mohon maaf. Besok saya mengaku kepada bapak agar bapak
menghukumku..sekali lagi maaf bu". Aku langsung pergi keluar dari halaman
tersebut melalui pintu butulan , keluar rumah mendinginkan kepalaku dan
nafsuku yang tak tersalur. Kulihat sekali lagi kebelakang sebelum
kurapatkan pintu butulan. Ibu mayang masih melihatku. Aku kasihan melihat
ibu mayang karena telah 2 kali ibu mayang gagal mendapatkan tusukan penis
dalam satu malam. Aku sudah merasa berdosa dan tersinggung karena ibu
mayang mengatakan aku ternyata bejat.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com