FIND MUSIC WEB VIDEOS: DOWNLOAD

tagtag.com/17tahun

Terus
terang memang saya sangat menyesal dengan segala tindakan saya kepada Dina.
Menyesal banget dah .... !!!, kadang setiap kali saya selesai menyetubuhi
Dina sepulang ia sekolah rasa sesal itu begitu besar ... sampai membuatku
pusing sendiri. Tapi bila nafsu sex- ku sudah naik ... nggak usah ditanya
deh ... saat ini saya sudah kecanduan sex ... pernah dalam 3,5 jam aku
minta jatah sampai 4 kali kepada Dina, dan setelah kurasakan air maniku
benar-benar sudah habis kutumpahkan semua ke dalam liang vaginanya barulah
aku berhenti dan tidur kecapekan, sebenarnya aku kasihan padanya karena
sampai teler-teler melayaniku ... tapi pembaca harap maklum Dina juga tak
senang jika melihatku kurang puas, ia tak segan- segan menyuruhku untuk
terus menyetubuhinya sampai ia melihatku benar-benar puas, dan hal itu
tampak jelas diwajahku bila kepuasan maksimal itu telah tercapai, dan Dina
mengetahui itu. Cobalah pembaca bayangkan walaupun ia cukup bongsor untuk
kalangan ABG, namun bagaimanapun juga organ vitalnya masih belum sempurna
juga, terutama alat kelaminnya. Biasanya setelah selesai kusetubuhi air
maniku pasti meleleh keluar dari liang vaginanya karena tak sanggup
menampung tumpahan air maniku yang kuakui luar biasa banyaknya. Apalagi
sampai 4 kali senggama .... Saking banyaknya disekitar selangkangan dan
pahanya sampai basah penuh cairan sperma yang sangat kental berwarna
keputihan dan menembus sprei dan kasur tempat tidurnya. Untung saja papanya
yang usahawan agribisnis di kota Batu dan mamanya yang sibuk mengurusi
garmen membuat mereka amat jarang berada dirumah. Jadi biasanya setelah
kami berdua kelelahan bermain cinta, kami bisa bersantai-santai dulu diatas
kasur sambil sedikit bercumbu dan bercanda ... biasalah kissing and necking
after sex he ... he ... dan setelah itu pula biasanya ia dengan telaten
membersihkan alat kemaluan dan sekitar selangkangannya yang putih
merangsang itu dari leleran cairan air maniku yang berceceran. Memang perlu
pembaca ketahui dalam keadaan normal air maniku kalau keluar saat
enjakulasi sekitar 6 - 7 semburan kuat dan sangat kental, dan biasanya
kalau seminggu saja saya tidak onani (dulu sebelum bertemu Dina) bisa
sampai 12 - 13 semburan keras dan kental. Mungkin pembaca bisa menguji saya
untuk hal ini, tentu saja buat pembaca cewek he... he ... ini tidak promosi
atau mengambil kesempatan dlm kesempitan ... ini kenyataan kok. Guaranted
money not back .. he.. he ...
Oke .. lah!, tapi kali ini saya tidak bercerita tentang Dina (tapi kalo
pembaca ingin tau pengalaman seru saya ngesex bersama Dina selanjutnya bisa
saya ceritakan nanti kalo pembaca merespon .... Dijamin saru dan vulgar
tapi romantis kok ...), tapi ini tentang cewek baru saya. Oke .. Oke
..mungkin ada yg protes karena ulah saya yg nggak bertanggung jawab tapi
itulah kenyataannya sekarang dan sekali lagi ini tidak pernah saya duga
apalagi saya rencanakan sebelumnya, saya juga tidak meninggalkan Dina
karena saya tetap sayang padanya, walaupun kuakui sekarang ini saya sudah
agak jarang bertemu dengan Dina karena kesibukan luarku bersama teman2
kursus. Ini tentang Selva teman kursus saya di ....(dekat SMA 3 Mlg
pokoknya ... pasti tau semua dah kalo ada pembaca Arema)), begini kisahnya
setelah hampir sebulan saya berhubungan gelap dengan Dina, kebetulan
kemudian saya mengikuti kursus English. Lumayanlah buat nambah wawasan
pengetahuanku, walaupun sebenarnya aku nich sudah semi- fluent soal english
.. he..he ...
Di tempat kursus ini selain English course juga merupakan lembaga
pendidikan setaraf Diploma 1 dengan berbagai jurusan ... ada perhotelan,
sekretaris en so on. Dan perlu anda ketahui sebagian besar (99%) peserta
didik adalah lulusan SMU. Cewek-ceweknya hampir 75 % diatas rata-rata alias
manis-manis dan cantik. Karena masih tergolong usia muda (Lulus SMU) maka
nggak heran kalo setiap hari selalu ramai dengan teriakan dan tawa canda
gadis2 remaja, apalagi kaum cowoknya yg mulai kenal masa pubertas pertama
saling pasang aksi menarik perhatian temen2 ceweknya yg kebanyakan sangat
manis-manis sekali. Sebenarnya aku sih cuek saja liat tingkah mereka yg
bagiku sudah kuno, bau kencur, karena bagi saya seorang terpelajar,
performance kejantanan dalam artian wibawa, senyum, kata-kata, dan tindakan
langsung adalah yg terpenting bagiku, bukan pamer kemewahan atau sekedar
pamer tampang tapi otak nol. Charming seperti gituan sih ....weeek..
Maka dari itu sejak semula walaupun mataku berbinar- binar menyaksikan
tubuh-tubuh molek nan ayu, namun aku jadi ragu mana ada diantara mereka yg
lebih berpikiran dewasa selain sekedar mengisi waktu luang masa remajanya
sebelum langsung kerja setelah lulus SMU. Namun kekhawatiranku langsung
sirna begitu aku memasuki hari pertama English course-ku, ternyata dari 22
orang siswa kelasku adalah mahasiswa/i bahkan ada juga yang sudah lulus
seperti aku. Waah .. senengnya..., seperti biasanya hari pertama diisi
dengan perkenalan antar sesama dan dilanjutkan tell your self dimuka kelas
... he .. hee ... kaya mau nyanyi yaa ...maju ke depan segala, tapi
nyatanya menyenangkan kok. Dari situlah aku mengenal teman sekelasku satu
persatu, dan dari 22 orang yg cewek cuman 8 orang, selebihnya cowok. Dari
keturunan tionghoa ada 2 orang (cewek semua) dan salah satunya bernama
Selva dan satunya bernama Vonny. Sejak hari pertama, keakraban dikelas itu
begitu terasa, seakan terkenang masa-masa kuliah barusan. Apalagi sesama
teman cowok seperti Ongki, Teddy, Hanip dan Bowo teman baruku yang sudah
sama-sama selesai kuliah walaupun lain jurusan dan tempat kuliah, tidak
membuat kami canggung untuk berlama-lama menunggu menyesuaikan diri, seolah
teman lama yg lama tak jumpa, sehingga hari pertama kursus praktis kami
lewati dengan ngobrol ngalor ngidul satu kelas sampai jam pelajaran tanpa
terasa berakhir begitu saja. Tentor memang sengaja membiarkan kami semua
berafiliasi satu sama lain demi keakraban. Barulah pada hari ke 2, 3
dstnya, pelajaran tingkat Fluency dimulai secara serius. Walaupun begitu
tiada saat tanpa canda dan tawa, serius tapi santai adalah motto kuno yg
masih berlaku, hari keempat pelajaran yg dimulai jam setengah 4 sore itu
menginjak suasana diskusi, kebetulan sekali aku saat itu duduk bersebelahan
dengan Vonny gadis keturunan tionghoa itu. Orangnya ramah sekali dan senang
tersenyum, aku jadi suka padanya, wajahnya yang putih seperti umumnya gadis
keturunan tidak terlalu manis atau cantik namun ia pandai bicara, disamping
itu dasar englishnya lumayan juga, cukup fluent-lah. Dia kuliah di STIE MK
jur. Akuntansi semester akhir, sambil berdiskusi kami berdua banyak sekali
mengobrol tentang latar belakang keluarga kami masing- masing. Ia berasal
dari Gresik-Surabaya, sementara itu disebelah kiri Vonny duduk sahabatnya
yg bernama Selva yg juga sama keturunan, nampaknya ia juga ikut
memperhatikan obrolan kami berdua, saat itu kami memang sedang menunggu
giliran untuk urun pendapat dalam forum diskusi itu. Kebetulan dalam forum
diskusi ini kursi kelas sengaja ditata agak membentuk setengah lingkaran
dan sang tentor yg hari itu kebetulan cewek berada ditengah -tengah kami.
Selva orangnya kelihatan lebih pendiam dibanding Vonny, namun ia juga
sering tersenyum kalo kebetulan aku berbicara hal2 yg lucu. Wajahnya terus
terang memang cantik menurutku, bentuk wajahnya itu agak sedikit mirip
pemain film mandarin kalau tidak salah bernama Oey Yong. Karena penasaran
aku langsung saja menyapa namanya dan mencoba mengakrabinya.
" Hai Selva ... kamu sendiri asalmu dari mana ?, tanyaku ingin tahu. Dia
yang sedang asyik melamun mendengarkan diskusi, jadi agak kaget dan
memandangku setengah mendelik. Lucu sekali nampaknya.
" Eeeh .... Saya mas ...ooo ... saya dari Kediri mas ...", jawabnya
singkat, namun mulutnya tersenyum manis sekali padaku, matanya yang indah
dengan bola-bola matanya yang hitam memandang jernih.
" emm ... lalu kuliahnya juga sama-sama Vonny ..?", tanyaku terus. Aku
mulai tertarik padanya. Entah kenapa pandangan matanya tadi membuat dadaku
berdebar-debar.
" Iyaa .... Kami satu kost juga mas ...., mmmm ... mas sendiri darimana ?",
ia balik bertanya. Wajahnya semakin kelihatan cantik. Alamak ini gadis
bikin gemes aja.
" Ooo. ...aku dari sini saja Sel .....", jawabku singkat
" Arema dong ...", sahutnya lagi sambil setengah tertawa. " Masih kuliah
mas ...", tanyanya selanjutnya. Tampaknya ia semakin banyak bicara.
" Enggak sekolah lagi Sel ...mmm .... Maksudku udah lulus kuliah ....",
timpalku sambil tertawa. Ia pun ikut tertawa, bibirnya yang tidak terlalu
tebal dan bentuknya yang menawan membentuk senyuman lebar, mempertontonkan
giginya yang terawat putih bersih.
Okelah ... nggak banyak kisah juga, karena saya yakin pembaca pasti bosan
kalo sampai kuceritakan detil, yang jelas semenjak itu kami bertiga menjadi
sangat akrab satu sama lain, tidak ada rasa perbedaan ras diantara kami
karena beda warna kulit, dan terutama sekali kepada Selva gadis keturunan
tercantik yang baru pertama kali kukenal secara akrab aku mencoba untuk
lebih memberi perhatian. Aku tau dalam hati, si Vonny lama-lama mulai
mengerti perubahan sikapku terhadap Selva yg semakin dekat, lebih dari
sekedar akrab. Dan nampaknya ia tidak protes, iri apalagi cemburu melihatku
begitu sangat memperhatikan Selva. Aku semakin sering datang mampir ke
tempat kost mereka didaerah Blimbing, dan senangnya begitu melihat aku
bersama Selva mulai asyik bercerita, biasanya ada saja alasan Vonny untuk
pergi kebelakang, yg mau angkat cucianlah, mau setrika baju buat kuliah
besoklah en segudang alasan lain, dan ia pun nggak bakalan muncul lagi
sebelum aku hendak pulang pamitan.
" Mau pulang Ar .... Iya wiss ... besok kesini lagi khan ..?", tanya Vonny
sambil tersenyum namun matanya melirik kearah Selva. Yg dilirik hanya
membalas dengan senyuman.
" Iya deh .... Asal nggak ngganggu kalian belajar aja ....", sahutku ragu.
" Alaa ... Ar ... Selva khan nggak ada ujian besok ..." , timpal Vonny
sambil kembali melirik Selva. Sekali lagi yg dilirik cuman bisa mendelik,
namun Selva kemudian memandangku sambil tersenyum. Tiba-tiba aku teringat.
" Hahhh ..... besok khan malam minggu ..", ucapku kaget sambil melongo.
" Lhoh ... memangnya kenapa Ar ....Ooooo ...ngapel ya masss..?", tanya
Vonny, kali ini ia memandangku tanpa ekspresi. Aku gelagapan.
" Weehhh ... nggak ding .....kebalik malah ... apa kalian yg nggak diapeli
...?", tanyaku ragu sedikit cemas membayangkan Selva sudah ada yg punya.
" Ooo ..iyaa ..Vonny besok pulang ke Gresik mas ..tapi kalo Selva ...disini
aja khan Sel ..?", kali ini Vonny yg ganti menanya Vonny.
" Sel .... Besok malem aku kesini lagi yaa ....", potongku sebelum Selva
sempat menjawab. Pikirku apa sih artinya malu-malu sama mereka, bisa hilang
kesempatan. Toh segala resiko seandainya Selva sudah memiliki pacar toh..
aku khan cuman maen sebagai teman. Kenapa takuuuut.
"Wooowwww", sahut Vonny lirih sambil kembali tersenyum kepadaku.
" Aahh ... mas Ari ... nanti mass ada yg marah lho ..?" bisik Selva
kepadaku, namun mukanya tertunduk malu. Seakan melihat gelagat baik.
" Iyaa .. sih Sel ... terus terang nanti kalo besok mas Ari nggak kesini
... Selva marah ..?" , godaku cuek
" Yeee .....grrrrrrr nih yeeee .....", teriak Selva namun jemari tangannya
seketika mencubit lenganku. Aku pura-pura kesakitan, sambil memegang jemari
tangan halusnya yg sedang mencubitku. Ia membiarkan tangan kananku
menggenggam jemari tangannya, dan kutatap wajah cantiknya yg tertunduk
semakin malu. Semenjak itu aku jadi yakin ia belum memiliki pacar. Pada
mulanya aku sedikit heran bagaimana mungkin gadis secantik dia ......,
tetapi setelah secara rutin aku hampir saban hari menemuinya barulah aku
tahu, sebenarnya begitu banyak teman cowok2 terutama yang seketurunan
(tionghoa) dengan Selva, sering datang dan mengajak Selva keluar, padahal
secara kebetulan aku juga sedang berada disitu menemani Selva, umumnya
mereka yang datang selalu memandang remeh dan seolah menganggapku tidak ada
walaupun Selva sudah memperkenalkanku. Mungkin karena aku ini pribumi yach
... nggak boleh pacaran sama suku lain ... sorry yaach. Tapi aku sih cuek
aja, apalagi setiap kali teman cowoknya datang ia selalu berpindah tempat
duduk disebelahku setengah merapat, seolah aku ini kekasih barunya ...
bagaimana aku tidak senang dan bangga. Kalau sudah begitu, aku yang jadi
risih juga melihat teman cowoknya jadi melotot karena iri dan cemburu ....
He ... he.. . belum tauu diaa ...
Dua minggu setelah itu, kuberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku
sebenarnya kepada Selva bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Sebenarnya aku
sudah siap seandainya ia menolakku dan hanya menganggapku sebagai sahabat
saja, karena mengingat secara klise kami memang berbeda warna kulit. Namun
saat kuucapkan kata- kata cintaku yang tulus kepadanya, sambil gemetar
kugenggam erat kedua jemari tangannya yang halus ....wajahnya sedikit kaget
dan kedua pipinya nampak bersemu merah ...
" Selva ... aku harap kamu mengerti apa yang telah aku rasakan selama ini,
hampir sebulan kita saling mengenal, dan aku rasa inilah keyakinanku ....
Dan ...aku hanya bisa mengatakan hal ini sejujur dan setulusnya ....mmmm
... aku mencintaimu Selva ....", bisikku gemetar menahan rasa deguban
jantungku. Kedua mataku menatap dalam-dalam ke wajah cantiknya yg memerah
... dan tertunduk malu, ia tak berkata sedikitpun. Hatiku berdebar- debar
menunggu jawaban dan reaksinya. Serasa begitu lama .... Sedetik dua detik
... sejenak kemudian Selva mengangkat wajahnya yg masih memerah, namun
kedua bibirnya tersenyum manis dan tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya
kearahku dan bibirnya mencium pipiku sekilas. Aku tersentak kaget, senekat
itu dia ...
" Selva .... Apakah ini berarti ...?", tanyaku diantara rasa kaget dan
gugup. Ia masih tersenyum walau sedikit malu.
" Aku pikir .... Kita punya perasaan yg sama Ar ...", sahutnya pendek, lalu
menundukan mukanya lagi yg makin merah.
" Aaah .... Kau mencintaiku juga Sel ....", bisikku seakan tak percaya.
Mataku mengerjab tak yakin atas pengakuannya itu. Dan diantara keremangan
malam, ditaman samping tempat kostnya, Selva mengangguk pelan mengiyakan
pertanyaanku.
Aaaaah .... Ini adalah malam terindah sepanjang hidupku sekaligus malam
kemenanganku, telah kudapatkan gadis idamanku yang cantik dan baik hati,
aku tak sanggup menahan gejolak rasa, diatas kursi panjang didalam taman
mungil itu kutarik tubuhnya dengan gemas kearahku dan kupeluk erat dengan
perasaan bahagia, tanpa canggung sedikitpun Selva membalas pelukanku dengan
tak kalah erat. Kami berdua tanpa sadar menangis saking bahagianya ....
Hari itu sabtu, tgl 18 Juli 1998, lebih kurang pukul setengah sembilan
malam, kami berdua telah resmi sebagai sepasang kekasih.
Sebagai kekasih, sudah tentu kejujuran disamping kesetiaan adalah simbol
janji kami berdua saat mengikat janji untuk saling terbuka sama lain, tidak
ada masalah yg kami tutupi diantara pribadi kami masing- masing. Begitu pula
tentang Dina, semuanya aku ceritakan kepadanya, bahkan ketika kukatakan
bahwa dengan Dina aku khilaf sampai terjadi persetubuhan juga aku ceritakan
terus terang kepadanya. Pada mulanya Selva sangat kaget dan marah kepadaku,
ia menuduhku telah menipu dan mengkhianatinya. Sampai 2 hari ia tak mau
menemuiku apalagi menelpon, aku sampai gulung koming karena stress ...
takut kehilangan dia. Namun hari ketiga ia menelponku dan menyuruhku
datang. Ternyata aku bersyukur ia sama sekali tidak kelihatan marah seperti
kemaren, malahan ia mengatakan ia bisa menerima semua kesalahanku asal aku
tetap jujur dan terbuka dan satu lagi aku diharuskan untuk menjauhi Dina.
Waktu kukatakan bahwa sikapku terhadap Dina hanya sebatas sayang bukan
cinta, sama sekali ia tak menanggapi atau memberi respon. Ia hanya menatap
kesal kepadaku. Tapi inilah kejujuran yg harus kuungkapkan kepadanya. Aku
meraih tubuhnya kedalam pelukanku ... kangen. Selva sama sekali tak
menolak, ia bahkan merebahkan kepalanya kebahuku. Aaah ....aku begitu
bangga memiliki kekasih yang begitu cantik sekaligus sangat pengertian
kepadaku ini. Kuciumi gerai rambut kepalanya yang harum dan kuusap mesra
kedua tangannya yang halus mulus sambil kubisikkan kata2 mesra menentramkan
hatinya.  

Tanggal 25 Juli 1998 ....
Satu minggu sudah, kami pasangan kekasih baru ....
Pukul 8 pagi Selva menelpon, memintaku untuk mengantarkan ke tempat
tantenya di daerah Sukun kota Malang. Aku menyanggupi, dan jam 10 pagi aku
sudah tiba di tempat kostnya, dengan mesra Selva mencium pipi kananku.
Perlu pembaca ketahui, cium pipi sudah menjadi kebiasaan dalam keluarganya,
dan sebagai orang terkasih tentu saja aku juga layak mendapatkannya juga he
... hee ..., tapi sebenarnya bibirku ini sudah tak sabar ingin membalas
ciumannya, ingin rasanya hati ini mencium dan mencumbu bibir ranumnya yang
berwarna merah muda tanpa lipstik dan selalu kelihatan basah. Aaah
.....kadang kupikir ia memang mirip sekali dengan Oey yong .... Mmm ...
cantiknya. Namun anehnya juga walaupun kami sudah berpacaran, setiap kali
berduaan tidak ada sama sekali dalam pikiranku untuk ngesex bersamanya,
selain sekedar keinginan untuk bercumbu. Lain halnya dengan Dina, melihat
bentuk tubuhnya yang bongsor dan seksi saja sudah langsung membuat batang
penisku ngaceng kepingin memasuki liang vaginanya dan melampiaskan nafsu,
padahal sebenarnya tubuh Selva malah jauh lebih seksi dan padat, karena
memang sudah dewasa, 22 tahun. Kebiasaan Selva yang selalu memakai pakaian
superketat membuat bentuk tubuhnya yang padat sangat menawan. Pinggulnya
sangat ramping namun bokongnya bulat menantang dan padat, serasi dengan
kedua paha kakinya yang sangat seksi. Buah dadanya kuakui mungkin sedikit
lebih kecil dari milik Dina namun aku justru malah menyukai bentuknya itu
yg tidak terlalu besar, dari balik baju kaos dan BHnya yg ketat dapat
kulihat Buah dadanya sangat kencang dan pasti putih sekali sesuai dengan
warna kulit tubuhnya. Tingginya pun cuman kurang 3 cm dari tinggi tubuhku
yang 168 cm, sedang rambutnya yang hitam dibiarkan terurai panjang sampai
ke lengan. Pokoknya perfect dah menurutku. Kalo pembaca melihat penampilan
pacarku ini dijamin pasti ngaceng dan kepingin ..... he ... he.... Angaak
hooo ...
Pukul 11.15 kurang lebihnya, kami tiba di kediaman tante Selva, tempatnya
berada di komplek perumahan di Sukun (rahasia dong), rumah itu relatif
cukup besar dan mewah menunjukkan empunya tergolong orang kaya.
" Gede banget rumahnya Sel ...", bisikku kagum. Selva cuma tersenyum dan
menggandeng lenganku mesra masuk kedalam pagar. Setelah memencet bel, tak
berapa lama kemudian seorang wanita muda yg cukup menarik membuka pintu,
dari penampilan dan pakaian yg dikenakannya mungkin ia pembantu dirumah
ini. Ia langsung mempersilahkan kami masuk kedalam, karena rupanya ia sudah
mengenali Selva.
" Tante ada nem ...?", tanya Selva sembari terus menggandengku masuk
kedalam.
" Ada mbak Selva ..... orangnya masih mandi ... tunggu aja mbak didalam
..., saya buatkan minum dulu yaach ...", sahut wanita muda itu tanpa
menunggu jawaban ia langsung ngibrit kebelakang.
" Waalaaah Sel .... Tantemu itu keterlaluan sekali ... jam segini kok baru
mandi ...begadang apa yaaa ....", tanyaku geli. Selva ikut tertawa dan
mencubit pinggangku.
" Ssstttt .... Nanti tante dengar aaahh ....malu ..."
" Biaariin ....", sahutku cuek. Namun belum habis ucapanku, tiba-tiba dari
balik pintu telah muncul seorang wanita yang tak kalah cantiknya seperti
Selva, bahkan memiliki kesamaan wajah dengan pacarku Selva. Kulitnya putih
bersih dan wajahnya kelihatan sangat ramah menyenangkan. Dan yang membuatku
salah tingkah, karena wanita tersebut ternyata memakai pakaian senam yang
sangat ketat berwarna putih. Sebenarnya bukan pakaian senamnya yang bikin
aku deg-deg plass ... tapi aaaahhh ......gilaaa ...bener2 gileeeeeee ....
Amit-amit jabang babii ..... sweaarr .... Ia yg kuperkirakan usianya tak
lebih dari 30 - 33 tahun itu tak mengenakan apa-apa dibalik baju senamnya.
Bisa dibayangkan dengan bentuk tubuhnya yang seksi dan padat saja aku sudah
bisa menduga ia seorang pesenam profesional, buah dadanya yang relatif
sangat besar sampai menonjol kedepan mempertontonkan warnanya yg putih
merangsang dengan kedua puting susunya yg berwarna merah kecoklatan agak
tua. Kedua puting susunya sampai menonjol pada baju senamnya yang ketat.
Lancip. Waaah ....pokoknya sampe menuh-menuhin bungkusnya dah .....
Dan yang lebih edan lagi ia juga sama sekali tak mengenakan celana dalam,
sehingga sekali lagi aku bisa melihat dengan sejelas- jelasnya dan
seterang-terangnya, bulu jembutnya yang hitam menerawang lebat sekali dari
balik celana senamnya yang tipis berwarna putih. Selangkangannya itu
kelihatan menggembung agak besar menandakan ia mempunyai bukit kemaluan
yang besar. Teng ... teng ... tanpa sadar batang penisku langsung ngaceng
... mengeras melihat pemandangan vulgar itu. Tapi herannya baik Selva
maupun wanita itu sama sekali tak kelihatan canggung, bahkan seolah
melupakanku Selva langsung maju memeluknya dan mencium kedua pipinya, lalu
mengobrol ngalor ngidul seolah lama nggak ketemu. Kesempatan itu
kupergunakan untuk mengamati bentuk tubuh wanita itu sepuasnya. Waah ....
Dia memang benar- benar luar biasa seksi, bokongnya pun masih tampak sangat
kencang dan bulat bak gadis remaja. Baju senamnya yang tipis menerawang
mempertontonkan kepolosan dan kemolekan tubuhnya yang putih mulus membuatku
benar-benar klenger dan ngaceng. Aku membayangkan jika seandainya bercinta
bersamanya, mungkin baru masuk 2 - 3 gesekan air maniku sudah muncrat
saking merangsangnya ... he ... hee ...nggak ku .. kuuu deh ......
" Mass .... Sinii ....", tiba-tiba Selva memanggilku.
" Eeeh .... Apaa ...?", bisikku gelagapan. Aku jadi malu pada diriku
sendiri .... Malu pada otakku yang ngeres .... Bejaat....
Aku berjalan mendekati mereka sambil senyam-senyum rada2 bloon.
" Tante ... ini kenalin ....mmmm .... cowok Selva tante ...", kata Selva
setengah malu-malu. Jemari tangan kanannya meraih lenganku dan ia
menggelayut manja disebelah bahu kiriku. Aku tersenyum bangga.
" Oooh ... ini pacar kamu Sel .... Hayaaaa ....sejak kapan nih ceritanya
... waduuh ...waduuh ...kamu pinter cari cowok Sel .... Manisnya ....",
sahut tante Selva genit dan ramai. Setengah malu kuulurkan tangan kananku
kepadanya.
" Saya Ari ... tante ...", kataku mantap ketika ia menjabat erat tanganku.
Kulit tangannya terasa hangat dan halus sekali. Sekali lagi tanpa sengaja
mataku memandang kearah dadanya yang besar. Alamak .... Gileee ....besar
banget kedua susunya, begitu jelas bentuknya yang kencang dan bundar
berwarna putih bersih dengan kedua putingnya yang berwarna merah muda
kecoklatan. Lancip lagi. Aku menelan ludah ....
" Ooo.. yaa ... saya tantenya Selva ....kenalin Vivi ...", balasnya ramah,
mulutnya sangat indah dengan bentuk bibirnya yang sensual. Aduuh maak ...
ini orang cantiknya amit-amit bisikku dalam hati. Tante Vivi menjabat
tanganku cukup lama, sembari terus tersenyum memandangiku penuh arti,
sepertinya ia tahu gerakan ekor mataku kearah payudaranya yg besar montok.
Aku menatapnya rikuh, namun ia mengerdipkan matanya kepadaku sekilas penuh
arti. Astaga ..... bisikku dalam hati .... Jangan2 ....ini orang ....
Weleh-weleeh ... tau ah.....
Hampir dua jam lamanya kami bertiga ngobrol kesana kemari nggak
bosan-bosan, dan sesekali dua kali .... Tante Vivi menatapku dengan tatapan
aneh walaupun masih dengan senyumannya yang menawan. Aku tidak tahu arti
semua itu ... atau memang aku sendiri yg pura-pura tidak tahu ... he..hee
.., yg jelas saat itu aku hanya bisa blingsatan salah tingkah
menghadapinya. Bagaimana nggak risih .... Kami berdua duduk bersebelahan
dengan mesra sementara Tante Vivi duduk berhadapan dengan kami, ia sama
sekali tak mengganti pakaian senamnya yang vulgar itu, entah ia sudah
terbiasa dengan pakaian seperti itu kalo menemui tamu atau memang ia
sengaja membikin kedua mataku jadi jarang berkedip menyaksikan pemandangan
indah tubuhnya yg luarbiasa itu. Salah satu kakinya terkadang ditumpangkan
membuat pahanya yang padat dan seksi dengan bentuk bokongnya yang bundar
padat terlihat sangat merangsang, begitu putih dan mulus tanpa cacat. Atau
terkadang malah Tante Vivi entah secara sengaja atau tidak, kedua belah
pahanya agak sedikit dibuka lebar sehingga dari balik celana senamnya yg
putih tipis itu menerawang rambut- rambut kemaluannya yg sangat lebat
berwarna hitam legam ..... wuuuuiiikk ...., napasku seakan terhenti dan
jantungku berdegub kencang. .... Dug ...dug ...dug ....
Gilaaaa .... Ini sudah edan pikirku, aku berusaha untuk mengalihkan
pandanganku kearah lain namun sempat kulihat tante Vivi tersenyum penuh
arti kepadaku. Aku sendiri tak tahu apa Selva menyadari semua perubahan
sikapku, tapi yg jelas ia tetap cuek mengobrol seakan pemandangan makhluk
yg ada didepannya adalah pemandangan yg biasa. Aku jadi ngeri sendiri
sekaligus heran kepada Selva, kenapa ia juga nggak risih melihat tantenya
memakai pakaian yg vulgar seperti itu, apa ia sendiri juga sudah terbiasa
.... Waah gawat ... secara mendalam aku memang belum mengenal Selva
seutuhnya namun yg aku dengar dari mulutnya sendiri, dulu Selva pernah
hampir menikah dengan pria pilihan orang tuanya pada saat ia berusia hampir
19 tahun, namun pernikahan itu batal karena ketahuan calon suaminya yg
katanya pengusaha kaya itu ternyata memiliki banyak simpanan wanita. Kedua
orang tuanya marah besar kepada calon menantunya, lalu Selva dikirim ke
Malang untuk kuliah disini. Aku tidak tahu apakah Selva masih perawan atau
tidak, aku tak berani menanyakan hal seperti itu, toh ia juga sudah cukup
berterus terang dan yg penting kami saling mencintai. Apalagi...... soal
keperawanan bagiku itu bukan masalah ... lagian aku khan sudah pernah .....
he ... he .. angak hooo...
Tanpa terasa hari semakin siang, dan Selva mengajakku pulang. Lega rasanya,
bagaimanapun juga terus terang aku tadi sangat terangsang kepada Tante
Vivi, sepertinya ia sengaja mengujiku atau entah ada maksud lain ...sebodo
...yg penting sekarang pulang pikirku.
Tante Vivi mengantar kami sampai ke pintu depan, aku pura-pura mendahului
Selva agar mataku tidak jelalatan melihat tubuh tante Vivi yg benar-benar
hot itu .... Waaaah ...batang penisku benar-benar ngaceng berat, aku yakin
pasti ada cairan bening yg sempat kurasakan keluar tadi. Sialan pikirku.
" Mas salaman dulu dong .... Kok ngeloyor sih ...", bisik Selva sambil
meraih tangan kiriku.
" Eeeh ... iyaaa ...permisi dulu tante ...." , sahutku gugup. Lalu dengan
terpaksa aku kembali berdiri berhadapan dengan tante Vivi. Kuulurkan
tanganku kepadanya, namun mau tak mau kedua mataku kembali menatap kedua
bongkahan daging kenyal payudaranya yang besar. Aduuh mak ....
Puting-putingnya itu lho yg bikin aku geregetan. Aaah ingin rasanya aku
menjamah kedua payudaranya dan meremas sekuat- kuatnya dengan gemas ....
Iiih...hiih ...mataku melotot penuh nafsu, dan kulirik Tante Vivi kembali
tersenyum penuh arti kepadaku .... Sebodo ahh ...
" Mas Ari nanti ajarin Tante maen Internet yaah ... kapan-kapan", katanya
sambil tetap tersenyum.
" Eeeh .. iya tante ..", sahutku gugup, sambil memandang kearahnya. Duuh...
cantiknya.
" Daah dulu yaa tante ... nanti ketemu lagi ..", sahut Selva riang. Ia
kembali menggelayut manja disebelahku.
Dalam perjalanan pulang, diatas sepeda motor tak henti-hentinya Selva
mencubiti pinggangku, karena aku berterus terang mengatakan padanya kalo
tante Vivi tadi nggak pake BH dan CD.
" Eeeh .. jadi mas Ari tadi ngeliat apaa ....iiih nakal ... nakal
..",teriaknya sambil mencubiti pinggangku berkali- kali dengan gemas. Sebodo
.... Salah sendiri ....  

Tanggal 26 Juli 1998......
Jam 9 pagi .... Tante Vivi menelponku, yg isinya ia baru saja memesan 1
Unit Komputer Multimedia untuk dipake dirumah. Aku jadi heran, buat apa dia
beli komputer canggih pada saat krismon seperti ini yg pasti harganya
meroket tinggi, sedangkan seperti yang ia katakan sendiri kemaren hampir
tiap hari ia selalu pulang jam 9 malam karena kesibukan bisnisnya. Trus ...
apa komputernya nggak jadi pengangguran. Dan lucunya ... ia tidak
mengatakan apa2 lagi selain itu, dan ia hanya bilang besok akan menelpon
lagi. Karena katanya pesanannya itu baru datang besok dan sekarang ia
sedang berada dalam perjalanan ke Surabaya.
Aku melupakan hal itu, dan seharian ini kuhabiskan waktuku bersama Selva
kekasihku tercinta. Sepulang kursus, kami berdua nonton film di Sarinah
Plaza, dan baru pulang sekitar jam setengah sepuluh malam. Ketika aku
mengantarnya kembali ke tempat kostnya, didalam halaman rumah suasana sudah
sangat sepi, karena disamping sudah malam, anak2 yg lain pasti sedang asyik
nonton TV diruang tengah. Seperti biasa sebelum aku pulang, Selva memeluk
dan mencium pipiku mesra, aku tak mau kalah kupegang kedua belah bahunya
hendak mencium bibirnya yg ranum, namun seolah mengerti ia melepaskan
pelukannya sambil cemberut ia berkata ....
" Iiih .... Maunya ....hik ..hik ...", bisiknya sambil tertawa kecil. Aku
jadi kecewa.
" Sedikit aja sayang .....", bisikku gemas, karena keinginanku mencium
bibirnya jadi hilang. Selva nggak menyahut namun ia kembali memelukku
dengan erat, kepalanya disandarkan ke bahuku. Aku membalas pelukannya tak
kalah mesra. Badannya yg padat terasa hangat dalam pelukanku terlebih buah
dadanya yg tak terlalu besar itu terasa begitu lunak dan kenyal menempel
ketat dadaku yg bidang. Mmmmm ... nikmat. Kucium dan kuusap lembut rambut
kepalanya yg harum.
" Mas ... ada saatnya nanti kita bisa menikmati seperti yg mas Ari inginkan
... tapi nggak sekarang mas ....mau khan ..?", serunya lirih dalam
dekapanku.
" Selva sayang ... Aku ingin menikah denganmu ....", sahutku gemas. Selva
mengangkat wajahnya yang cantik lalu tersenyum .... Hanya dalam jarak
kurang dari 10 cm ... desah hangat napasnya yg harum terasa menerpa lembut
wajahku.
" Itu pasti mas .... Selva sudah berjanji dan yakin .... Tak akan pernah
melepaskan mas Ari apapun yg terjadi .... Selva mencintai mas ...",
bisiknya sedikit gemetar. Lalu direbahkannya kembali kepalanya ke bahuku.
Aaaah ..... bahagianya ....  

Tanggal 27 Juli 1998 ....
Jam 8 malam.....
Aku baru saja pulang menemui Dina, terus terang aku kasihan karena sudah 1
minggu lebih aku tak menemuinya, ia sangat marah karena tak pernah datang
dan membalas teleponnya. Tak perlu secara detil kuceritakan, yg jelas
setan-setan burik itu kangen pada kami. Aku kembali lupa diri, aku tidur
bersama Dina lagi. Alamak .... Dina begitu sangat bernafsu, dan aku tak
sanggup menolak karena rudal patriotku sudah lebih 1 minggu pula tidak
meledak. Aaah .... Air maniku benar- benar terkuras habis olehnya, sweeaarr
.... Aku heran kenapa Dina begitu sangat liar ...ia menyetubuhiku dari atas
sampai 2 ronde dan aku tak sanggup menahan gejolak nafsu sex ku yg begitu
menggelora. Gesekan dan jepitan liang vagina Dina yg luarbiasa sempit itu
membuat batang penisku memuntahkan air maniku dengan deras hanya dalam
tempo masing-masing kurang dari 5 menit. Aku berjalan pulang dengan langkah
gontai kehabisan tenaga. Dina malam itu benar- benar menguras tuntas air
maniku. Aku teringat kepada Selva .....bagaimanapun juga ini harus
dihentikan pelan- pelan. Gilaaa ...aku telah membuat Dina kecanduan sex pula
......bagaimana ini ....???  

Tanggal 28 Juli 1998 ....
Jam 9.10 malam, aku baru saja pulang dari tempat kost Selva .... Biasa
kencan yg romantis.
Jam 9.30 malam, barusan saja Tante Vivi menelpon.
" Hei ...Ar ... kemana aja seharian ...ke tempat Selva yaa ...", tanya
tante Vivi dari seberang. Aku yg sebenarnya sudah ngantuk karena capek jadi
tegang kembali, karena suara merdu tante Vivi.
" Iya tante .... Biasa tante ... khan lagi kasmaran", candaku. Dalam hati
ada apalagi nih Tante Vivi nelpon malem2 ....
" Kok tumben tante malam2 begini .... Pasti ada yg penting nih ....?",
tanyaku pura2 Curiga.
" Iiih kamu ini ... khan tante sudah bilang lusa kemaren ...tante khan beli
komputer baru Ar .... Tapi tante nggak bisa pakainya .... Kira2 besok malem
kamu bisa kesini khan ngajari tante ...."
Deggg .... Aku tersentak kaget. Ternyata ooh ternyata ..... waah ...
jangan2 ...aku mulai curiga ...tapi mana mungkin ....
" Haloo ...halooo ..Arii ... kamu masih disitu yaaahh ..."
" eehh ... iya tante ... mmm ...Ari usahakan deh ...", sahutku gelagapan.
" Bener ya Ar ... pokoknya harus dateng yaaa.... Tante tunggu jam 9 malem
yaaa .... O...iya Selva jangan dikasih tau ... bener nih ...daaa ...".
Klik. Tante Vivi entah sengaja atau tidak langsung memutuskan hubungan.
Mungkin ia tak ingin berdebat lebih lama denganku.
Aku terpekur bingung sekaligus heran. Kenapa harus malam- malam kesana dan
kenapa Selva tidak boleh kuajak ....?????? . Seribu tanda tanya seolah
menghantui tidurku. Apakah Tante Vivi itu sengaja ingin di .... pikirku
mulai ngeres, soalnya aku jadi teringat segala sikap perilakunya waktu
bersama Selva kerumahnya. Jangan ....jangan ....aahhhh ....sepertinya aku
ini berada dalam sebuah cerita novel porno .... Sepertinya dibuat- buat
tetapi inilah kenyataan yg kualami sekarang .... Aku tak pernah
merencanakan apa-apa sebelumnya .... Ataukah ini karmaku atas Dina ....
Aaaahhh .... Aku bingung, tegang, setengah takut dan ..... setengah ngaceng
....
Aku tak tau apa yg terjadi nantinya ....
Haruskah aku datang sendirian malam2 ....lalu pulang jam berapa nanti
....???


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com